PEKIKAN : MERDEKA !! (Menyambut 76 tahun Dirgahayu Kemerdekaan RI)

Oleh: Pbrt. Dr. Tulus To’u, M.Pd

1. Pekikan: merdeka !!

Waktu masih kecil, masih sempat, di radio mendengar pekikan BungKarno, presiden pertama kita, bila beliau berpidato. “Merdeka ….!!!” Setelah masa Orde Baru, dan pemerintahan seterusnya, sunyi sepi dari pekikan, “Merdeka..!!” Baru ketika Megawati Soekarno Putri, tampil memimpin partai dan menjadi Presiden, kita mendengar kembali pekikan, “Merdeka..!!” bergemuruh kembali. Kemarin, 16 Agustus 2021, Presiden Joko Widodo, di depan MPR, DPR, DPD, dalam pidato kenegaraannya, diakhiri dengan pekikan, “Merdeka..!!!”

Suatu kali, ketika menghadiri acara Perempuan GKE di Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Bupati saat itu, Dr.Ir.Willy M.Yoseph, MM. sekarang anggota DPR RI. Mengawali pidatonya, memekikan, “Merdeka…merdeka….merdeka..!!” Hadirin terdiam, juga dalam ketidak-mengertinya. Beliau bertanya, apa maksud dan makna pekikan itu? Intinya, beliau ingin rakyatnya, yang dipimpinnya, dapat merdeka dari ketertinggalan dalam pembangunan. Merdeka dari kemiskinan dan kesejahrteraan, merdeka dari ketertinggalan dalam pendidikan, merdeka dalam kesehatan, merdeka dari keterisolasian.

2. Merdeka 76 tahun

Orang tua kita bercerita betapa beratnya hidup masa penjajahan Belanda. Kebebasan sangat terbatas. Pendidikan hanya bagi golongan terbatas. Diskriminasi status Eropa, Asia, Indonesia, pribumi, jelas dan dirasakan. Menduga Jepang saudara tua akan menolong dan memerdekakan, ternyata lebih kejam dari Belanda. Karena itu, kemerdekaan harus direbut dan diperjauangkan dari tangan Belanda dan tangan Jepang. Akhirnya pekikan “Merdeka !!” 17 Agustus 1945, bukan kemerdekaan pemberian Belanda atau Jepang, tetapi direbut dan hasil perjuangan rakyat Indonesia. Menumpahkan banyak darah dan air mata, jiwa dan raga, harta dan benda.

Cita-cita kemerdekaan dari para Founding Fathers, Bapak pendiri bangsa kita, “Mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur…… Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Setelah 76 tahun merdeka, cita-cita itu masih terus diperjuangkan. Bersatu, ya, NKRI harga mati, karena ada yang merongrongnya. Berdaulat, ya, secara sosial dan politik, tetapi kekuatan ekonomi global masih ada ketergantungan kita dengan pihak luar. Keadilan dan kemakmuran, ya satu sisi, tetapi sisi lain masih ada anak-anak bangsa yang belum merasakannya dalam beragam bentuk keadilan dan kemakmuran. Banyak yang masih miskin, belum sejahtera, apalagi hidup makmur. Kita mendengar juga ungkapan, “Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.” Kecerdasan bangsa, ya, sudah banyak yang terdidik, ada wajib belajar, tetapi masih ada yang tercecer dalam pendidikan. Biaya pendidikan, ternyata tidaklah murah. Untuk dapat sekolah yang tinggi, butuh biaya yang besar. Ada beasiswa, tetapi jumlah terbatas sekali, hanya bagi yang berprestasi.

Maka, pekikan, “Merdeka..!!” Pak Presiden Joko Widodo. Pekikan “Merdeka… merdeka…. merdeka,” Dr.Ir.Willy M.Yoseph, benar juga adanya. Kemerdekaan itu, belum selesai, masih perlu terus diperjuangkan dan digemakan terus.

3. Mengisi kemerdekaan, 7-Si

“Bahu-membahu,” kata Presiden Joko Widodo, untuk menghadapi ombak badai yang menerpa dunia dan Indonesia juga. Pergumulan dan tantangan saat ini, mustahil dihadapi dan ditangani oleh pemerintah sendiri. Perlu, semua komponen anak banagsa saling bergandengan tangan dan bahu membahu. Sehingga, “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

Upaya mengisi kemerdekaan, dapat dilakukan oleh orang-perorang, atau dalam sinergi dengan yang lain, dengan mengembangkan 7-SI : Atensi, Presensi, Partisipasi, Kontribusi, Intensi, Dedikasi, Prestasi.

  1. ATENSI yaitu perhatian dan kepedulian. Kita jangan acuh tak acuh terhadap kehidupan bangsa kita. Mari kita peduli kepadanya. Hal itu kita mulai dengan memperhatikan dan mempedulikan lingkungan masyarakat di mana kita berada.
  2. PRESENSI yaitu hadir dalam kehidupan bangsa kita. Kita ada di dalamnya, maka kita hadir dengan segala eksistensi kita.
  3. PARTISIPASI yaitu ikut berperan-serta dalam membangun dan memajukan kehidupan bangsa. Seberapapun peranan kita dan apapun kedudukan kita, ikut sertalah di dalamnya.
  4. KONTRIBUSI yaitu ikut menyumbang memberikan apapun yang kita punya/bisa untuk Indonesia. Sedikit atau banyak, berkontribusilah terhadap kebutuhan dan kepentingan bangsa kita (Sri Handoko).
  5. INTENSI yaitu melaksanakannya jangan asal dan setengah hati tetapi penuh ketulusan dan kesungguhan hati.
  6. DEDIKASI yaitu melaksanakannya dengan penuh pengabdian. Peranserta dan kontribusi kita laksanakan dengan ‘passion’ yang utuh dan penuh.
  7. PRESTASI Kalau semua itu dilaksanakan, maka kita akan mencapai hasil yang penuh keunggulan, kemenangan yang gilang gemilang bagi negara kita Indonesia. Kita, tidak bertanya : “Apa yang Indonesia bisa berikan untuk saya”, tetapi bertanyalah kepada diri sendiri : “Apa yang saya/kami dapat berikan untuk Indonesia” (Sri Handoko).

4. Merdeka dalam Kristus

Yaitu Kristus, telah memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. Ini kemerdekaan sejati. Yesus Kristus yang turun ke dunia sebagai Allah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Kematian Yesus Kristus di kayu salib merupakan pengorbanan yang agung untuk menyelamatkan manusia. Sejak itu, manusia dimerdekakan oleh AnakNya Yesus Kristus, bukan oleh siapa-siapa yang berada di dunia ini. Inilah yang diartikan bahwa Firman telah menjadi daging, menjadi manusia, dan tinggal bersama-sama dengan manusia. Kemerdekaan itu telah diberikan kepada dunia melalui anakNya. Tinggal, bagaimana sikap kita untuk menerima kemerdekaan itu (Anna Vera P).

Kita adalah orang-orang yang telah dimerdekakan oleh Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Sebagai orang yang telah dimerdekakan oleh Allah, kita mewujudkan dan membuktikan bahwa kita adalah orang-orang yang telah menerima kemerdekaan itu di dalam hidup kita. Orang yang merdeka adalah orang yang setia. Yang merdeka adalah yang bersyukur. Orang yang merdeka adalah orang yang melakukan perintah Allah, bukan perintah kuasa gelap dan kuasa iblis. Untuk itu, mari syukuri sebagai orang yang telah dimerdekakan oleh Allah, untuk melawan kuasa dan godaan-godaan yang akan menyalah-gunakan hidup untuk hal-hal yang tidak benar dan tidak baik. Itulah yang akan menggambarkan hidup kita telah dimerdekakan oleh Kristus (Anna Vera P).

“Merdeka…merdeka….merdeka….!!” Dimerdekakan, untuk menghadirkan kemerdekaan bagi sesama. Merdeka, untuk menjadi berkat bagi sesamanya. Sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa, menghadirkan kecerdasan dan mencerdaskan. Kemakmuran yang memakmurkan, kesejahteraan yang menyejahterakan, dan keadilan yang berkeadilan, serta perdamaian yang mendamaikan bagi sesamanya. “Merdeka…!!”

5. Makna kata MERDEKA
Secara kreatif imaginative, menemukan arti kata merdeka:
M = Manusia dicipta sebagai makhluk merdeka. Tetapi, ia dibelenggu beragam kekuatan
E = Empati sorgawi memerdekakan dan menyelamatkannya melalui Kristus
R = Riak dan gelombang pergumulan hidup memicu keraguannya akan kuasa Kristus
D = Dada dan raga kehidupan sesak oleh banyaknya beban dan himpitan kehidupan
E = Engkau, hanya mungkin bebas dan merdeka dari semuanya, hanya dalamTuhan
K = Kemanapun engkau cari, tidak ada kemerdekaan sejati, kecuali dalam Kristus
A = Aku, akhirnya, berjumpa Dia, satu-satunya, menyapa, ”Apabila Kristus, Anak Manusia, memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”

DIRGAHAYU HARI KEMERDEKAAN RI KE-76, MERDEKA!!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *