HeadlineKanan-SliderSlider

ORA ET LABORA (Menyambut Hari Doa Sedunia 2022)

Oleh Tulus To’u

1. Bekerja: Panggilan hidup

  1. Melatih bekerja. Bekerja bukan kewajiban atau keharusan, tetapi kebutuhan. Panggilan hidup untuk bekerja. Hidup butuh bekerja. Bekerja kebutuhannya. Sejak kecil, anak-anak dibiasakan bekerja. Dididik dan dilatih serta dihantar untuk hidup mandiri. Itu tugas dan tanggung jawab orang tuanya.
  2. Untuk memenuhi kebutuhan. Bekerja sebagai kebutuhan, dimaknakan untuk memenuhi keperluan dan kebutuhan hidup sebagai manusia. Ada banyak keperluan dan kebutuhan manusia, selama hidupnya. Kebutuhan dasar dan sekunder. Kebutuhan itu terpenuhi, bila ia bekerja. Melalui bekerja, ia mempertahankan hidupnya. Sehingga hidup dapat berkelanjutan dan dipertahankan.
  3. Menghargai yang kelihatan. Martabat, ada di dalam bekerja. Martabat meningkat, ketika kerja, bekerja, dan pekerjaan memberikan hasil yang melebihi ukuran yang biasa. Sebab, hasil kerja yang lebih, akan didayagunakan, selain untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ia akan diberdayakan untuk mengisi dan menghiasi sisi-sisi kebutuhan sekunder. Ia memenuhi kebutuhan dan keinginan. Sebagai manusia, merasa berharga dan dihargai. Sekitarnya, melihat apa yang di depan matanya. Tidak dapat dihindari. Dari situ kehormatan padanya.

2. Hidup harus diperjuangkan

  1. Doing my best, giving my best. Hidup ini mengalir saja, kata orang. Boleh, kalau sudah ada di jalannya yang lancar. Kalau saya, lain, tidak demikian. Hidup perlu diperjuangkan dan dikembangkan. Tantangan dan pergumulan tidak semakin mudah. Maka, untuk dapat hidup, yang lebih baik dan maju, perlu berjuang, bekerja keras, bekerja sekuat tenaga. Sang Bijak, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu, untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga…dan apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hati, seperti untuk Tuhan.” Jadi, mesti doing my best, giving my best, melakukan yang terbaik, memberikan yang terbaik.
  2. Ketekunan dan kegigihan. Calvin E.Coolidge, Presiden US, 1923-1929. “Dalam dunia ini, tidak ada yang mengalahkan ketekunan, bakat pun tidak. Ini karena ada sekian banyak orang yang gagal, meskipun mereka orang yang berbakat. Pendidikan juga tidak mampu menggantikannya. Dunia ini penuh dengan orang yang berpendidikan, yang gagal. Hanya ketekunan dan kebulatan tekadlah yang tidak terkalahkan.” Mungkin kita tidak setuju semua kalimatnya itu. Tetapi, benar, ketekuan, kebulatan tekad, kegigihan, jiwa pantang menyerah, sangat penting bagi keberhasilannya. Ia, ibarat gerbong lokomotif kereta api terdepan, yang dengan perkasa, menarik gerbong-gerbong lain yang di belakangnya.
  3. Memperjuangkan impian. Kepada anaknya, Martin Luther King Jr, 1929-1968, “ Engkau harus punya mimpi. Kalau engkau tidak punya mimpi, lebih baik tidak usah hidup…..Sebab hidup adalah memperjuangkan mimpi agar jadi kenyataan.” Jadi, hidup ini harus diperjuangkan dengan kerja keras, penuh ketekunan, kegigihan dan pantang menyerah. Impian yang tidak diperjuangkan dengan kerja keras, akan berubah menjadi lamunan belaka. Hanya, seperti Pungguk, merindukan bulan. “Dream come true,” mimpi agar jadi kenyataan harus diperjuangkan. Orang yang menabur dengan air mata dan keringat, akan menuai dengan sorak-sorai.

3. Godaan fasilitas dari iblis

  1. Tujuh tangan. Seorang famili kami yang malang-melintang bekerja sebagai ASN. Ia berkisah. Dalam seloroh mereka di tempat bekerja, ada 7 hal yang kemugkinan dapat membuat seseorang diberikan jabatan oleh pimpinan. Istilahnya: tujuh tangan. Apa tujuh tangan itu ? Tujuh tangan itu,a.l.: Garis tangan, suratan tangan, kaki tangan, tangan kanan, amplove di tangan, jabat tangan, tanda tangan. Kalau tidak ada itu, mungkin jabatan yang ada, tidak kebagian. Cerdas, loyal, disiplin, terampil, terdidik, sangatlah penting, namun, mungkin tidak menjamin dapat jabatan. Seloroh yang mungkin ada benarnya, mungkin juga tidak. Tergantung prinsip, yang dipegang pimpinan?
  2. Janji iblis. Kenikmatan dan harta benda, jabatan dan kekuasaan, menggoda banyak orang. Mungkin, banyak yang menginginkannya. Bukan melalui jalan yang kompetitif, melainkan ingin jalan mudah, jalan pendek, jalan pintas, tanpa berlelah dan berkeringat. Iblis, paham dan tahu hal itu. Ia secara kreatif memberi fasilitasnya. Menyediakan, dan menjanjikan untuk memberikan semua yang diinginkan manusia. Dengan harga : “Engkau sujud menyembah aku.” Bukan menyembah Allah, tetapi menyembah iblis.
  3. Kaya karena menyembah iblis. Banyak yang tergiur. Untuk sukses karier, jabatan, usaha, dan pekerjaan. Pergi ke orang pintar, guru spiritual, dukun, tempat keramat. Memelihara tuyul. Menggunakan pesugihan. Ada yang, datang untuk cari beli, ke famili kami. “Mencari tulang kepala babi, atau bekas pemanggang babi, sebagai alat pesugihan usahanya, karena jin-jin pengganggu takut dengan tulang babi,” cerita famili, yang jual daging babi hutan. Teman lain, waktu masih di Bandung, pergi ke Gunung Kawi, agar bisa kaya. Entah apa lagi yang dicari? Eka Darmaputera, “Banyak orang menjadi kaya, tetapi dengan menyembah iblis.”

4. Bertahan dalam pencobaan

Kekuatan iblis di atas kekuatan manusia. Iblis menyamar seperti singa berbulu domba, dan seperti malaikat terang. Membujuk rayu, tapi, tidak ada kebenaran. Pembunuh spiritualitas manusia. Pendusta dan bapa segala dusta. Menghalalkan segala cara. Memobilisasi seluruh potensinya. Mustahil, manusia sendirian, mampu melawannya. Kekuatan manusia kecil dan terbatas. Iblis dapat mengerahkan berbagai kemampuan dan berbagai cara untuk membuat manusia bertekuk. Bagaimana agar dapat bertahan, tidak tergilas takluk pada iblis?

  1. Doa dan iman. Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut, tetapi daging lemah. Doa orang yang benar, yang lahir dari iman, didoakan dengan penuh keyakinan, akan besar kuasanya. Tuhan yang maha kuasa, besertanya yang berdoa. Dalam sikap iman dan doa demikian, iblis berhadapan dengan Tuhan yang berkuasa. Seperti Ayub, meski didera habis-habisan hingga sekarat, oleh kawan-kawannya dan iblis. Ayub terus bertahan, dan menang, oleh kesabarannya, dan kasih karunia, serta kuasa Allah.
  2. Lawan dengan iman. Iblis berkeliling menjelajahi bumi. Ia berjalan keliling, seperti singa yang mengaum-aum, mencari orang yang dapat ditelannya. Bukan manusia yang mencari iblis. Yang lengah dan tidak waspada serta tidak berjaga-jaga, secepat kilat diterkamnya. Lawanlah dengan iman yang teguh. Sebab, iman sebesar biji sesawi, dapat memindahkan gunung-gunung persoalan manusia. Karena iman, orang benar tidak hanya mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi bersandar mengandalkan kuasa Allah. Segala perkara, dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Kami sanggup, karena Allah yang memberikan kesanggupan.
  3. Pegang Firman dengan benar. Iblis tahu Yesus Anak Allah. Maka, katanya, memerintah-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, ubahlah batu menjadi roti.” Iblis juga tahu dan hafal Firman Allah, dan memerintah-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu, dari bubungan Bait Allah, sebab ada tertulis…” Semua pengetahuan itu, disalah-gunakan iblis. Hanya untuk menjatuhkan, mencobai, menyerang, memperdaya, menipu, demi kepentinganya. Sebaliknya, orang yang benar, akan memegang Firman Allah dengan benar dan bertanggung jawab. Menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar. Ia mendengarkannya, lalu melakukan dengan taat. Bukan mendengar, lalu pergi untuk melupakannya.
  4. Komitmen sembahlah Allah. Iblis menjanjikan memenuhi dan memberikan, seluruh keinginan dan kenikmatan dunia, yang dicari manusia. Iia dapat memberikan harta, kekayaan, jabatan, kekuasaan. Dengan harga: engkau sembah sujud kepadanya! Orang yang benar, jangan terpesona, ikut berpaling dari Allah. Komitmen, bulat, hanya sujud menyembah Allah saja, dan hanya berbakti, kepada Dia, satu-satunya Allah yang benar. Bulat hati, tidak mendua hati. Tidak ada ilah lain di hasdapan-Nya.
  5. Bekerja agar Allah dimuliakan. Orang bekerja atau melakukan sesuatu, dengan berbagai motivasi. Paling dasar orang bekerja, guna memenuhi kebutuhan jasmaninya. Motivasi lainnya, untuk memperoleh rasa aman, pengakuan dan penerimaan secara sosial, agar dihargai dan dihormati sebagai manusia bermartabat, terakhir sebagai ekspresi dirinya yang memiliki berbagai potensi dan kemampuan. Lima motif itu, rentan ditunggangi iblis. Sebab, hanya berpusat pada dirinya saja. Orang benar, perlu menambah pusat lain, berpusat pada Allah. Hidup dan bekerja bagi kemuliaan Allah. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia. Karena segala sesuatu, dari Dia, oleh Dia, bagi Dia segala kemuliaan, Soli Deo Gloria.
  6. Doing and giving my best. Temanku Ju-Madi, berseloroh, tidak ada manusia yang sempurna, kecuali satu, rokok Sampurna (hehehe…). Meski seloroh, benar juga bahwa setiap orang selalu ada plus-minusnya. Sebagai orang yang benar, justeru dipanggil untuk “doing my best, giving my best.” Hidupnya, perbuatannya, pekerjaannya, diperjuangkan demikian. Untuk menutup celah-celah, sehingga tidak ada ruang bagi iblis untuk menjatuhkan dan menyingkirkannya.
  7. Bersama Allah. Kekuatan iblis itu, mencekam dan menakutkan. Ia dapat menggunakan segala cara, halal dan haram. Dengan satu tujuan, lawan ditaklukkannya. Orang yang benar, hanya mengandalkan Tuhan Allah, kuasa-Nya dan Roh-Nya. Sebab Roh-Nya, lebih besar dari segala roh yang ada di dunia. Tunduklah pada Allah, bersama Allah, dengan kuasa-Nya yang paripurna, dan lawanlah iblis. Ia akan lari, dan engkau menang. Seperti Elia, dengan kuasa Tuhan, menaklukkan 850 nabi Baal dan nabi Asyera. Elia kecil, Allahnya, besar dan perkasa kuasa. Kalau Allah di pihak kita, siapa yang dapat melawan ? “Allah kuasa melakukan, segala perkara. Allahku, maha kuasa. Dia ciptakan seisi dunia, atur segala masa, Allahku maha kuasa,” kalimat sebuah lagu. Benar dan yakin.

5. Makna kata
D = Di dunia ini iblis memakai segala cara untuk menaklukan manusia
O = Oh……Tuhan, dari lembah kekecilanku, aku berseru dan berseru kepada-Mu
A = Akhirnya, aku bertahan dan menang, karena Tuhan besertaku. Kesanggupanku, karena
Tuhan memberikan kesanggupan dan kekuatan.

SELAMAT BERDOA DAN HARI DOA SEDUNIA

Leave a Reply

Your email address will not be published.