KUBERBAHAGIA 2021

Oleh : Pbrt. Dr. Tulus To’u, M.Pd

1. Hormon bahagia

Denny J.A, dalam bukunya: Spirituality of Happiness, a.l.
Otak adalah organ paling kompleks. Ada 100 miliar jaringan syaraf. Ada triliunan koneksi titik temu yang melahirkan pesan dan informasi. Dalam otak itu, ahli neuroscience juga menemukan hormon Bahagia:

  1. Dopamine, Serotonin, Oxytocine, dan Endorphine. Ini hormone, jika tumbuh, dan dihidupkan, akan memberikan rasa bahagia, damai, ekstase, rasa mengalami hidup bermakna.
  2. Pada otak manusia, ada lokasi parietal cortex. Ini semacam rumah spiritual di otak manusia. Jika aktif di bagian ini, ada rasa religiositas, “siapakah aku, apakah Tuhan ada, apa itu makna hidup,” dan ia meminta jawaban.

“Wahai manusia, ilmu pengetahuan sudah menyimpulkan. Apapun warna kulitmu, asal negaramu. Bagaimanapun tingkat pendidikan dan status ekonomimu. Wahai manusia, riset sudah membuktikan lagi dan lagi. Apapun agamamu, etnikmu, kepercayaanmu. Semua kamu bisa hidup bermakna dan bahagia.”
Seseorang, apapun warga negara, status ekonomi, gender, orientasi seksual, warna kulit, tingkat pendidikan. Apapun agama, konsep tentang Tuhan, semua bisa hidup bahagia dan bermakna. Untuk itu,perlu sikap, kebiasaan dan pola pikir baru. Formulanya: 3P+2S, yakni: Personal, Relasi, Positif, Passion, Small Winning dan Spiritual Blue Diamonds.
Lakukan Kebajikan. Hidupkan Kuasa Berbagi Memberi. Tumbuhkan the Oneness: rasa satu dengan sesama, lingkungan sekitar dan misteri alam semesta. Hidupkanlah Cinta dalam segala tindakan. Maka “samudera maha dalam mengalir ke dalam sukmamu: samudera kebahagiaan.”

2. Pemuja kenikmatan

Hedonisme adalah filsafat pandangan hidup menganggap kesenangan dan kenikmatan fisik, jasmani, materi, adalah tujuan utama hidupnya. Bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup. Hidup ini hanya sekali, sehingga dia merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Hidup, lalu dijalanani dengan sebebas-bebasnya untuk memuaskan dorongan hawa nafsu. Selama anda masih hidup, nikmatilah hidup ini. ”Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati.”
Untuk mendapat kesenangan, kenikmatan dan kebahagiaan itu, tidak perlu menunggu nanti di surga. Tidak ada. ”Kita tidak perlu pergi ke surga untuk mengalami kebahagiaan, karena di dunia ini, kenikmatan dan kebahagiaan serta kesenangan itu, telah tersedia dan dapat kita nikmati.” Kebahagiaan dianggap sama dengan kesenangan dan kenikmatan secara fisik, diduga membawa kebahagiaan. Tujuan hidupnya mengejar dan mencari kesenangan dan kenikmatan duniawi.
Pemujaan terhadap kesenangan dan kenikmatan, sekarang, banyak diamini orang. Ia sebagai gaya hidupnya. Ia dikejar, dicari, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Mungkin, itu nampak pada perilaku orang di sekitar kita? Namun, ia ibarat air laut, bila diminum, akan haus lagi. Semakin diminum, semakin dahaga. Diperbudak dan dibelenggu kenikmatan. Hidup sekedar memuaskan rongrongan nafsu egoistis. “Penjara tersempit adalah pikiranmu sendiri. Penjara terluas, adalah hawa nafsumu,”(Soedjatmoko).

3. Lima anak tangga bahagia, Komarudin Hidayat:

  1. Physical Happiness (Bahagia sisi jasmani). Seacara alamiah, orientasi hidup manusia secara instingtif bergerak antara dua pendulum: Menghindari hal-hal yang menimbulkan sakit dan dalam waktu yang sama lalu mencari hal-hal yang mendatangkan rasa senang. Namun lama-lama manusia memperoleh pelajaran hidup bahwa kebahagiaan fisik itu tidak abadi. Durasinya sesaat, datang dan pergi. Maka orang mencari kebahagiaan lain, yang bukan physical.
  2. Intellectual Happiness (Bahagia sisi intelektual). Jenjang berikutnya berkaitan dengan kegiatan dan capaian intelektual. Contoh, ketika seseorang lulus sekolah atau wisuda sarjana akan selalu menjadi kenangan indah yang membahagiakan. Suatu kebahagiaan non-fisik namun sangat intens dan bekasnya bertahan lama.
  3. Aesthetical Happiness (Bahagia sisi estetika). Andaikan kehidupan ini tak ada karya dan kegiatan seni yang menyajikan keindahan? Pasti hidup akan terasa kering, pengap, dan membosankan. Hidup tidak cukup hanya dipenuhi kebutuhan fisik dan intelektual. Makanya diperlukan sentuhan seni dan keindahan.
  4. Moral Happiness (Bahagia sisi moral). Kebahagiaan moral muncul ketika seseorang merasa dirinya bermakna bagi orang lain. Ketika seseorang bisa menolong meringankan beban sesamanya dan membantu memecahkan problem mereka. Ketika seseorang bisa memberi dan berbagi, bukan menerima dan dikasihani. Pribadi semacam ini sering juga disebut sebagai pribadi yang melimpah, pribadi filantropik. Orang yang lebih senang memberi, bukan meminta.
  5. Spiritual Happiness (Bahagia sisi spiritual). Level kebahagiaan tertinggi adalah ketika hidup seseorang selalu dalam orbit dan arasy kesadaran spiritual. Bahwa keakuan yang sejati bukan lagi yang bersifat fisikal, sosial dan intelektual, tetapi aku yang spiritual (spiritual being), sebagai manifestasi atau tajally dari AKU yang absolut. Tangga kebahagiaan yang di bawah menyangga yang di atasnya, sementara kesadaran spiritual memberikan energi, jiwa, dan panduan orientasi kebahagiaan di bawahnya. Nilai dan kesadaran spiritual bagaikan oksigen atau energi yang mengarahkan orientasi empat kebahagiaan yang lain.

4. Kuberbahagia, KJ 392

  1. “Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi. Kepunyaanku! Aku warisNya, ‘ku ditebus, ciptaan baru Rohulkudus.”
  2. ”Pasrah sempurna, nikmat penuh; suka sorgawi melimpahiku. Lagu malaikat amat merdu; kasih dan rahmat besertaku.”
  3. “Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhanku, hatiku teduh. Sambil menyongsong kembaliNya, ‘ku diliputi anugerah.” Reff: Aku bernyanyi bahagia, memuji Yesus selamanya. Aku bernyanyi bahagia, memuji Yesus selamanya.

Pesan lagu ini menurut saya: orang berdosa, hidupnya ditawan dan dibelenggu dosa. Tetapi, Tuhan Yesus telah menyelamatkan dan menebusnya. Ia menjadi ciptaan baru oleh kuasa Roh Kudus. Kenikmatan dan sukacita sorgawi, mengalir bahkan melimpah. Maka, kuberbahgia, dan bernyanyi bahagia. Kebahagiaannya, anugerah Tuhan Yesus, buah taat setia.

5. Rumah tanggaku bahagia, KJ 318

  1. Berbahagia tiap rumah tangga, di mana Kaulah Tamu yang tetap: dan merasakan tiap sukacita tanpa Tuhannya tiadalah lengkap; di mana hati girang menyambutMu dan memandangMu dengan berseri; tiap anggota menanti sabdaMu dan taat akan Firman yang Kaub’ri.
  2. Berbahagialah rumah yang sepakat hidup sehati dalam kasihMu, serta tekun mencari hingga dapat damai kekal di dalam sinarMu; di mana suka-duka ‘kan dibagi; ikatan kasih semakin teguh; di luar Tuhan tidak ada lagi yang dapat memberi berkat penuh.

Pesan lagu ini? Lagu ini, kerap dinyanyikan dalam ibadah pernikahan. Tetapi,saya pernah memilih lagu ini untuk ibadah minggu, yang tema khotbah berkaitan dengan hidup bahagia. Lagi ini, bila dinyanyikan dengan hati yang penuh penghayatan, sungguh luar biasa menggetarkan kalbu. Tiap orang, dan tiap keluarga, akan memiliki sukacita, hati girang, berbahagia, dan damai kekal, hanya, sekali lagi, hanya, bila Tuhan Yesus disambut, jadi Tamu yang hadir dan tetap tinggal dalam hidup keluarga, rumah tangga. Selalu rindu menanti dan taat setia akan FirmanNya. Tanpa Tuhan, tidak ada kuasa apapun juga, yang dapat memberikan kebahagiaan paripurna, ia buah taat setia padaNya.

6.Berbahagialah kamu

  1. D + P = B, (Dengar, Pelihara, Bahagia), Luk 11: 28. Tuhan Yesus adalah Anak Allah, melalui Allah yang menjadi Manusia, atau Firman yang menjadi Manusia, lahir dalam karya Roh Kudus melalui rahim Bunda perawan Maria. DenganNya, Allah bersama dan beserta kita, Imanuel. FirmanNya adalah Firman yang hidup, pelita bagi kakiku, terang bagi jalanku, pedoman bagi hidupku. FirmanNya, Roti hidup yang mengenyangkanku, Air hidup yang menyegarkanku. Sehingga, kala orang rindu dengar dan pelihara Firman, serta taat setia padaNya. Maka, seperti KJ 318, berbahagia setiap orang, berbahagia setiap rumah tangga. Atau, D (Dengar) + P (Pelihara) = B (Bahagia).
  2. T + L = B, (Tahu, Lalukan, Bahagia), Yoh 13: 17. Yesus Tuhan, Firman yang menjadi manusia, FirmanNya adalah firman yang hidup. Ia datang mengajarkan Firman. Selanjutnya, tidak saja mengajarkan, tapi sekaligus mempraktikkan firman itu dalam hidupNya. Sehingga, Ia bukan saja Guru Agung, tetapi juga Teladan Sejati. Sebab itu, bila orang tahu (=T), ajaran-ajaran dan teladanNya, lalu melakukannya (L=Lakukan), maka (B=)bahagialah mereka. Seperti KJ 392, Kuberbahagia, yakin teguh.. Aku bernyanyi bahagia, memuji Yesus selamanya.

7. Makna kata

B = Bermula dan bermuara pada limpahan karunia sorgawi
A = Aku menengadahkan tangan dan hidup pada uluran TanganNya
H = Hanya, sekali lagi, hanya, dari Dialah, kuberbahagia dalam hidupku
A = Apapun yang kuperjuangkan, seberapapun hasilnya, aku akan syukuri
G = Gerak langkah naik-turun, meliuk-liuk, penuh onak-duri dan kerakal-kerikil
I = Itulah jalan yang harus kutempuh. Kulewati dalam iman pada Yesus Tuhanku
A = Aman nyaman, sukacita, damai bahagia, jalan sertaNya, semata anugerahNya.

SELAMAT MENYUSURI JALAN BAHAGIA 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *