PENDIDIKAN KESADARAN KRITIS

(Menyambut Hari Pendidikan)

Oleh Pbrt. Dr. Tulus To’u, M.Pd

1. Pendidikan, membebaskan ?

Paulo Freire, murid tidak berkembang sebagaimana mestinya, mengapa? Pendidikan bermetode menindas murid. Ciri pendidikan kaum tertindas, bergaya “bank.” 1.Guru mengajar, murid belajar; 2.Guru mengetahui sgl sesuatu, murid tdk tahu apa-apa; 3.Guru berpikir, murid dipikirkan; 4.Guru bercerita, murid patuh mendengar; 5.Guru menentukan aturan, murid diatur; 6.Guru memilih dan memaksakan pilihan, murid menyetujui; 7.Guru berbuat, murid membayangkan diri berbuat melalui perbuatan gurunya; 8.Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid menyesuaikan diri dengan pelajaran itu; 9.Guru mencampur-adukan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lalukan utk menghalangi kebebasan murid; 10.Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek.

2.Meningkatkan kesadaran kritis

Paulo Freire mengusulkan peningkatan kesadaran manusia, bertahap, menuju kesadaran kritis, yaitu : 1.Kesadaran intransitif. Seseorang hanya terikat pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan tenggelam dalam masa kini yang menindas. 2.Kesadaran semi intransitif atau kesadaran magis. Kesadaran ini terjadi dalam masyarakat berbudaya bisu, masyarakatnya tertutup. Ciri kesadaran ini adalah fatalistis. Hidup berarti hidup di bawah kekuasaan orang lain atau hidup dalam ketergantungan. 3.Kesadaran Naif.. Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali realitas, tetapi masih ditandai dengan sikap yang primitif dan naif, seperti: mengindentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan yang sudah jadi, sikap emosi kuat, banyak berpolemik dan berdebat tetapi bukan dialog. 4.Kesadaran kritis transitif. Kesadaran kritis transitif ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog. Pada tingkat ini orang mampu berefleksi dan melihat hubungan sebab akibat.

Bagi Paulo Freire, pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis transitif. Memang tidak bermaksud seseorang langsung mencapai tingkatan kesadaran tertinggi itu, tetapi belajar adalah proses bergerak dari kesadaran nara didik pada masa kini ke tingkatan kesadaran yang di atasnya.

3.Pendidikan kita

UUSPN 20 tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari UUSPN itu, kita pahami. 1.pendidikan sebagai, usaha sadar dan terencana, utk. wujudkan suana proses pembelajaran. 2.Peserta didik : aktif kembangkan potensi diri. 3.Agar memiliki: kekuatan spiritual keagamaan + pengendalian diri dan kepribadian + kecerdasan dan akhlak mulia + keterampilan. 4.Hal tsb. diperlukan : oleh diri sendiri + masyarakat + bangsa /negara. Ide dan gagasan cemerlang bagi anak-anak bangsa.

Fungsi dan tujuan pendidikan? Berfungsi : mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Tujuannya, untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Impian yang istimewa dan luar biasa mempesona.

4.Life skill menyejahterakan

Waktu proses kuliah magister dulu, saya ingat bahan kuliah tentang perlunya pendidikan. Tanpa pendidikan, maka ada akibatnya, lingkaran spiralnya, “No education: low education, low product, low income, low saving, low inovation, low skill dan attitude, poor life.” Tanpa pendidikan, orang akan kesulitan mengembangkan hidupnya, karena inovasi, sikap dan keterampilannya rendah. Pendidikan semestinya: 1.Membuat orang berilmu dan berpengetahun (knowledge); 2Membuat orang memiliki keterampilan dan kemampuan (skill/ aptitude); 3.Membuat orang memiliki sikap (attitude); 4.Hal tersebut akan mengubah hidupnya (transformation).

Dengan pendidikan, pengeahuan dan keterampilan hidup, maka akan memungkinkan kesejahteraan hidup lebih baik. Sebab, pendidikan, lingkaran spiralnya: “Knowledge, skill, attitude, habit learning, mutual cooperation, creative, hight income, hight investation, social-economic, hight product, hight income, hight saving, culture, highter investation.”

Itu, katanya, lingkaran education result, lingkaran hasil sebuah pendidikan, yang mengubahkan hidup, kesejahteraan yang lebih baik. Sebab itu, pendidikan, sebaiknya selain mencapai ilmu dan pengetahuan yang baik, tetapi juga menemukan keterampilan hidup (life skill), agar di era terbatas lapangan kerja, mampu berkompetisi dalam mengembangkan dan memperjuangkan hidup yang lebih baik dan sejahtera. Lingkaran berikutnya, diberkati agar menjadi berkat bagi sesamanya. Ilmu pengetahuan dan hidup, memberikan manfaat bagi orang lain. Semakin cerdas berdayaguna bagi sesamanya. Ayo belajar terus, sepanjang hayat, menjadi terdidik dan mendidik.

5.Yesus Guru membebaskan

Pendidikan yang membebaskan, dapat dilakukan, Paulo Freire: 1.Model pendidikan adalah metode hadap-masalah (pose-problem); 2.Guru dapat belajar dari murid, murid belajar dari guru; 3.Guru menjadi partner yang melibatkan diri dan menstimulasi daya pikir muridnya; 4.Mereka saling memanusiakan satu terhadap yg lain; 5.Manusia dapat memperkembangkan kemampuan utk mengerti secara kritis tentang diri sendiri, dunia, sesama; 6.Masalah pendidikan senantiasa membuka rahasia realitas yg menantang manusia dan kemudian menuntut satu jawaban; 7.Jawaban itu membawa kpd dedikasi yg seutuhnya; 8.Dengan demikian, murid-murid sungguh-sungguh terlibat di dalamnya; 9.Dengan metode itu, murid semakin manusiawi dan kritis.

Dalam ruang kuliah, diskusi dengan mahasiswa tentang Yesus Guru Agung, saya menangkap beberapa gagasan cemerlang mahsiswa, tentang Yesus sebagai Guru Agung yang mengajar pada masaNya. “1.Yesus, Ia lain dari yg lain, berbeda dengan para pengajar saat itu. 2.Wibawa ilahi yang dibawa dari sorga ada padaNya, juga saat Ia mengajar. 3.Kreatif dalam mengajar, memakai beragam metode kreatif. 4.Integritas ada dalam diri dan hidupNya, menyatu hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam hidupNya. 5.Yeusu Guru Agung, tidak otoriter, Ia mengajak berpikir, Ia mengasihi semua orang. 6.UsahaNya mengajar dengan kata-kata, tetapi Ia melengkapi dengan memberi teladan hidupnya. 7.HidupNya totalitas menjadi contoh dan suri tauladan. 8.Bersahabat dengan semua kalangan tanpa ada sekat pembatas. 9.IdeNya yang spontan, cepat bereaksi sesuai konteks yang dihadapiNya. Ia kontekstual. 10. Guru = sosok yang gugah, ubah, rekonstruksi, ulangi.” DidikanNya, didikan membebaskan.

6.Makna kata
Hasil merenung kreatif, kutemukan makna kata:
P = Perilaku hidup, segala keterampilan hidup, hasil sebuah proses belajar dan didikan
E = Engkau, Ibu-Bapa guru, Ayah-Ibu, para pendidik, berjasa bagi perkembangan hidupku dan banyak insan
N = Nama kalian semua, tertoreh dalam sanubariku terdalam, terima kasih dan hormatku
D = Didikan dalam kata dan perbuatan hidup kalian, kusimak dan kuteladani
I = Integritas hidup, karya dan layanan kalian, telah menjadi berkat bagi banyak insan
D = Dengan beragam-macam cara, kugali, kucari, kutemukan ilmu, karena motivasi kalian
I = Inspirasi hidup karena pendidikan, ibarat menemukan air segar dari mata air, yang tidak pernah habis-habisnya
K = Kupersembahkan ilmu, ketermapilan, karya layanan bagi insan generasi penerus
A = Agar orang muda terus termotivasi mengejar ilmu pengetahuan, sehingga hidupnya berdayaguna bagi sesamanya
N = Nah, benar, pendidikan adalah proses berubah, menuju kemajuan dan kesejahteraan. Ayo, semua, mari terus belajar, menjadi insan terdidik dan mendidik.

SELAMAT HARI PENDIDIKAN, 2 Mei 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *