HeadlineKanan-SliderSlider

IMAN DI TENGAH BENCANA

1. Banjir di Kalimantan Selatan, Jan 2021
Banjir terburuk Kalsel, pertengahan Januari 2021, merusak dan menyapu beragam sarana, prasarana dan kehidupan warga masyarakat, di 13 kabupaten kota. Laporan media masa,a.l. BNPB kalsel, pada Sabtu (16/1/2021) pukul 10.00 WIB, ada 27.111 rumah warga terendam, dan 112.709 warga terpaksa mengungsi, 21 orang meninggal dunia. BPBD Kalsel, mencatat kerusakan infrastruktur jalan akibat bencana banjir dan longsor di Kalsel mencapai hampir 1.000 kilometer, tepatnya 906,8 km. Kemudian ada 75 buah jembatan (beton dan gantung) rusak dan terputus. BPPT, mengestimasi dampak kerugian per 22 Januari 2021, sektor pendidikan, kesehatan dan sosial, pertanian, perikanan, infrastruktur, dan produktivitas ekonomi masyarakat, sekitar Rp 1,349 triliun. Kemendikbud Kalsel, mencatat sebanyak 1.385 sekolah di 13 kabupaten kota, rusak akibat banjir besar. Belum termasuk kerugian harta milik masyarakat. Dahsyat!

2. Iman di tengah bencana
Selama Pandemi Covid-19, kegiatan perkuliahan banyak saya lakukan online dari Sababilah, Buntok. Tgl 12-14, kami meminta bantuan teman-teman melihat keadaan rumah kami di kompleks Keruing Indah, Handil Bakti, Barito Kuala. Air sudah hampir masuk rumah. Jumat pagi, 15 Jan 21, Saya dan Deanu anak kami, berangkat ke Banjarmasin via Palangkaraya. Kalau lewat jalur Kalsel, kemacetan sudah terjadi di beberapa ruas jalan.
Sorenya tiba di depan kompleks. Benar air di jalan dan di kompleks sudah hampir selutut. Kami memberanikan diri masuk, dan ijin parkir di teras parkiran tentangga, yang sedikit agak tinggi. Dalam kelelahan, malamnya, saya tidur dikursi sofa di ruang tamu, Deanu dengan kasur kecil di lantai. Pk 02.00, kami terbangun, air telah masuk dalam rumah. Barang-barang yang ada di lantai beberapa sudah basah. Kami bekerja keras memindahkan barang-barang dari lantai dan di kotak lemari bagian bawah.. Barang sebagian lalu diangkut ke loteng. Cukup melelahkan. Kasur besar kami jemur 4 hari baru kering. Barang lain cukup 1-2 hari. Air tiap hari naik terus, tertinggi sampai 21 Cm dalam rumah.
Kami dan banyak warga terisolasi. Banyak rumah sudah ditinggal mengungsi. Kami ditelpon teman-teman agar mengungsi. Sadar, kehidupan lebih berharga daripada harta benda. Beberapa mobil tetangga mungkin sudah masuk air melalui knalpot. Meja TV, lemari hias dan lemari pakaian kami, terbuat bahan teakblock, rusak terendam air. Mobil, karena takut masuk air lewat knalpotnya, terpaksa kami nekad membawa dengan menembus kedalaman air, untuk diparkir di pinggir jalan raya. Sebelum pergi, berdoa dulu, syukur sampai di jalan raya, mobil tidak mogok dan tidak kemasukan air. Yang juga cukup menggangu, listrik mati, air mati, WC tidak dapat difungsikan. Sehingga makan diatur tidak boleh banyak, untuk mengurangi b.a.b. Kuliah online yang baru mulai, juga terganggu. Tetapi, kepasrahan, ketidak-berdayaan, pengharapan, doa, tetap dan terus dilantunkan. Keluarga, warga gereja, teman-teman seangkatan Duta Wacana Yogya, alumni doctor I-3 Batu, ikut mendukung dalam doa. Tentunya, banyak anak-anak bangsa, yang ikut berdoa, bahkan tangan terulur, hati dibalut kasih, hidup digerakan oleh iman dan cinta sesamanya, bagi korban bencana.
John Wesley, Allah berada dalam bencana alam. Bencana adalah derita. Allah berada di dalam derita. Derita teramat perih bagi korban bencana. Allah tidak meninggalkanNya, Dia menderita bersama-sama mereka. Allah teramat mengasihiNya. Kasih itu dinyatakan dalam diri Yesus yang tersalib. Dalam diri Yesus tersalib orang dapat melihat dan merasakan kedalaman hati Allah. DenganNya, Allah Bapa menyatakan diri sebagai Allah yang mengasihi dan membuka tabir masa depan, melalui krisis, melalui hal yang paling suram. Dengan terus mempertahankan kasihNya ini, Allah terus-menerus berjumpa manusia. Peristiwa bencana menghantar orang berjumpa Allah, melalui orang-orang yang mengasihiNya dan sesamanya (P.Simamora).
Setiap hari banyak relawan masuk mengantar nasi bungkus atau sembako, dan mengevakuasi warga. Kami juga, 2X dapat kiriman sembako dari gereja, Sehingga tidak kekurangan persediaan makanan. Yang mengharukan, tetangga kami yang lebih sederhana, setiap sore mengirim makanan untuk kami. Kami tidak mampu menolak kebaikan mereka. Karena itu, tiap kali kami mengembalikan tempat makanan, kami sertakan juga bahan makanan. Ketika air dalam rumah sudah surut, 2 hari membersih tembok dan lantai. Setelah 10 hari terisolasi, kami kembali ke Sababilah, Buntok. Kami berikan sebagian sembako untuk tetangga kami itu, tanda kasih dan syukur atas kebaikan mereka.

3. Manusia berkontribusi menyebabkan bencana alam
Alam adalah karya seni Allah, dan yang terus bekerja dalam dunia ciptaaNya. Allah tidak meninggalkan dunia ciptaanNya, Dia berkarya terus. Ada paham lain, mengatakan, Allah seperti tukan jam. Ia menciptakan dunia ini, lalu melepaskannya berjalan sendiri, sesuai hukum alam. Tetapi, John Wesley, Allah tetap dan selalu bekerja (Creation Continuo) dalam dunia. Dalam peristiwa bencana, Allah mempunyai peran serta (P.Simamora).
Siti Nurbaya, KLHK, menerangkan kejadian banjir pada DAS Barito di wilayah Kalsel tepatnya pada Daerah Tampung Air (DTA) Riam Kiwa, DTA Kurau dan DTA Barabai, karena curah hujan ekstrim. Mungkin terjadi dalam periode 50 hingga 100 tahun. Penyebab utamanya terjadi anomali cuaca curah hujan sangat tinggi. Selama lima hari dari tanggal 9-13 Januari 2021, terjadi peningkatan 8-9 kali lipat curah hujan dari biasanya. Air yang masuk ke sungai Barito sebanyak 2,08 miliar m3 (normalnya 238 juta m3).
Sudharto P Hadi, menyatakan, tingginya curah hujan menjadi salah satu penyebab banjir di Kalsel. Namun, aliran air yang terakumulasi menjadi banjir itu dipicu penurunan daya serap permukaan tanah. Penurunan itu, disebabkan alih fungsi lahan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Walhi Kalsel, M Jefri Raharja, menyebutkan, banjir ini sebagai bencana ekologi. Sebab, selain, tingginya curah hujan, banjir juga terjadi karena kontribusi pembukaan hutan. Banjir kali ini lebih parah dibandingkan periode sebelumnya. Berdasarkan data yang dimiliknya, salah satu peruntukan pembukaan lahan Kalsel, untuk perkebunan sawit.

Namun, Charles Wesley menyatakan, bencana alam, adalah amarah Allah pada manusia berdosa/ jahat. Dalam “Nyanyian Akibat Gempa,” Ia dengan puitis, “Terkutuklah orang-orang yang berdiam di bumi. Yang tidak takut pada bengisnya Sang. Maha kuasa. Ketika Tuhan mengungkapkan segenap amarah-Nya. Dan menghujani mereka dengan hukuman. Orang-orang berdosa, menantikan hujan kemarahan. Mempersiapkan diri bertemu dengan Tuhan. Ketika Tuhan!”

Darius Dubut, “Kalau itu hukuman Tuhan, maka Tuhan tidak adil, karena menghukum rakyat, korban bencana, sementara para penjarah hutan tidak dihukum,” E. Gerrit Singgih, Teologi hukuman semacam itu, sangat rapuh dan lemah. Karena teologi hukuman, sering menyudutkan mereka yang menjadi korban bencana. Kecuali teologi itu datang dari kalangan yang menjadi korban, dan hanya dapat memohon agar Tuhan menolongnya. Namun, juga kita tidak dapat menolak sepenuhnya teologi hukuman itu, meskipun juga, tidak dapat menerimanya bulat-bulat. Memang, orang gampang dan cepat menjatuhkan vonis pada mereka yang terkena bencana.

4. Spiritualitas lingkungan hidup
Doa, adalah tindakan penjaga kebun Allah. Doa, bukti persekutuan ciptaan dengan Allah. Dalam doa, seseorang mengakui Allah, bagian dari dunia ciptaanNya, Allah bekerja aktif dalam kehidupan ciptaanNya. Doa, cara untuk mengamini tanggung jawab yang Allah berikan menjadi penjaga dan pemelihara dunia sebagai kebun Allah. Doa juga bagian penting kehidupan gereja. Gereja berdoa, gereja menyatakan imannya kepada Allah, yang berinkarnasi ke dunia melalui Yesus Kristus. dan Roh Kudus. Doa melahirkan tindakan: yang menolak hidup dalam budaya merusak keutuhan ciptaan. Doa, tindakan mendukung keputusan politis melindungi lingkungan hidup. Doa, hidup dalam hubungan damai dengan Allah dan dengan dunia. Marthin Luther menyebutkan bahwa Allah tidak hanya menulis FirmanNya di dalam Alkitab, tetapi juga di pohon, bunga, awan dan bintang, maka spiritualitas lingkungan hidup adalah jawaban untuk mengamininya (Irene Ludji)

5. Makna kata
Dalam imaginasi kreatif, menemukan makna inspiratif, kata BENCANA:
B = Berubah drastis, keadaan kering, menjadi penuh air di jalan dan dalam rumah
E = Emosi melayang-layang bagai di atas gelombang laut bergelora
N = Nadi sosial ekonomi transportasi terputus; mengisolasi banyak orang; sebab,
C = Cerah langit, berganti kabut gelap awan, menumpahkan air hujan berhari-hari, bencana menimpa
A = Alam membara amarah memantik bencana, karena ulah perusak alam,
N = Negeriku berduka, berkabung, nyawa dan harta benda disapu air
A = Allah berbelarasa, mengasihi melalui banyak insan, yang tangan terulur, hati dibalut kasih, hidup digerakan oleh iman dan cinta sesamanya.

SELAMAT BERBELARASA BAGI SESAMA

Bagikan tulisan ini:

3 thoughts on “IMAN DI TENGAH BENCANA

Leave a Reply

Your email address will not be published.