K E L U A R G A K U (Menyambut Hari Anak, Remaja, dan Kesejahteraan Keluarga GKE 2021)

Pbrt. Dr. Tulus To’u, M.Si

1. Kuperlu keluargaku

Ketika masalah membuat diri jadi rapuh, keluarga menjadi kekuatan. Di saat hampir berhenti dlm perjuangan hidup, keluarga terus mendorong. Ketika bibir semakin terkatup krn tekanan hidup, keluarga terus mengucap doa. Bersama keluarga, sejuta makna terlukis, ribuan kisah terukur. Ada tangis di balik keberhasilan. Ada tawa di balik duka. Suka duka silih berganti. Keluarga adalah anugerah ilahi tempat dimana kita selalu berpaut. Milikilah hidup berkeluarga yg saling mendukung, menopang, dan mengasihi. Saling menghargai perbedaan dan merangkul yg lemah. (Nancy Tanusaputra, FB 29 Sep 21)

2. Keluarga

  1. Allah yang mempersatukan. Keluarga adalah kesatuan dari adanya suami, isteri, bersama anak-anak yang lahir dalam keluarga (nuclear family). Apabila nuclear family bertambah dengan anggota lain dari keluarga, misalnya keponakan, dll, maka ia menjadi keluarga yang lebih besar (extended family). Keluarga ini bermula dari, ketika seorang laki-laki meninggalkan Ayah dan Ibunya, lalu bersatu dengan isterinya. Keduanya menjadi satu daging, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Sebab, di dalamnya telah ada kesatuan jasmani, rohani, secara adat budaya, secara hukum dan secara agama. Lagi pula, ada kesatuan cinta, hati, kehendak, harapan dan impian bahagia. Mendasarinya iman dan berkat Tuhan, serta Kristus sentral keluarga. Kesucian keluarga perlu dijaga, dirawat dan dipelihara. Bentengi keluarga dengan bijak. Ramulah filter-filter penyaring. Selektif menerima unsur yang masuk, kecuali untuk membangun keluarga lebih baik lagi. Hindari anasir luar masuk, yang dapat menajiskannya. Sebab, anasir itu, bagaikan setetes air tuba, yang dapat merusak susu sebelanga.
  2. Lembaga terkecil. Dunia, dalam pemahaman, warga manusia yang menempati permukaan bumi. Dunia ada, terjadi dan terbentuk oleh rangkaian ikatan berbagai unsur kelompok manusia. Manusia sebagai individu, ia berdiri sendiri, mandiri, bebas dan merdeka. Akan tetapi, meski sebagai individu demikian, ia juga sebagai makhluk sosial yang mustahil terlepas dari ikatan dengan manusia lain. Dari individu-individu inilah, kemudian muncul ikatan-ikatan individu dalam beragam bentuk dan macam kepentingan di tengah-tengah dunia. Ikatan individu itu tampil berupa lembaga atau organisasi, yang angggotanya sedikit atau banyak, kecil atau besar. Nah, keluarga adalah lembaga terkecil dalam masyarakat, karena terdiri dari Ayah, Ibu, Anak (nuclear family).
  3. Sentral degup dan derap dunia. “Keluarga adalah sendi dunia yang bersatu,” kata Eka.D. Hal itu kita pahami, bahwa individu sebagai unsur, factor, oknum, person, yang menyatu dalam ikatan keluarga. Maka, keluarga sebagai bagian dari dunia, bagian dari masyarakat, bagian dari gereja. Titik mula, individu, lalu keluagra, dan masyarakat kumpulan keluarga, sedangkan dunia kumpulan masyarakat. Sebab itu, wajah dunia, wajah negara, wajah masyarakat, wajah gereja, sedikit atau banyak, akibat degup dan derap individu dan keluarga. Pusat dan sentral serta awal mula wajah-wajah itu, ada dalam degup dan derap keluarga. Ayah, Ibu, Anak, dan kualitas hidup mereka, merekalah pemain, actor, sutradara bagi degup dan derap keluarga. Maka, Ayah, Ibu, Anak, perlu bersatu-mitra membangun keluarga berkualitas dalam spiritualitas, pengetahuan, perilaku dan perbuatan.

3. Untuk apa keluarga?

  1. Tempat paling teduh. Keluarga tempat insan dan cinta berlabuh. Ialah pelabuhan damai bagi jiwa yang lelah setelah mengarungi deru ombak dahsyat menghempas jalan kehidupan. Tiap insan yang dalam perjalanan, Selalu damba rindu cepat pulang dan tiba di haribaan pelukan keluarga. Keluarga adalah tempat paling teduh dan nyaman, untuk berteduh. Tempat teduh inilah, yang kondusif bagi anggota keluarga bertumbuh secara fisik, mental, kognitif, afektif, moral dan spiritual. Inilah tempat terbaik pendidikan iman, sikap, perilaku, etika dan moral. Karakter konstrukttif bagi perjuangan hidup dan masa depan, dimulai dikembangkan dalam keteduhan keluarga. Semaian-semaian benih-benih nilai-nilai luhur disemai oleh Ayah dan Ibu dalam keluarga yang teduh. Sehingga, anak-anak melihat, mendengar, dan mengalami sendiri keteduhan mengalir dari Ayah dan Ibunya. Semua itu tergores kuat dalam sanubari yang akan diikuti sebagai suri tauladan mereka kelak.
  2. Sekolah pertama. Pendidikan dan belajar dipahami tempatnya di sekolah. Sesungguhnya, tempat pertama dan utamanya, ada di dalam keluarga. Ayah dan Ibulah guru pertama untuk mengjar dan mendidik anak-anaknya. Mengajar dan melatih anak-anak bertumbuh kemampuan fisiknya, merangkak, berdiri, berjalan, berlari. Mengajar dan melatih anak-anak bertumbuh kemampuan komunikasi, berbicara, berkata-kata, bernyanyi. Mengajar dan mendidik anak-anak nilai-nilai luhur, mulia, baik/ tidak, benar/ salah. buruk, jahat. Melatih kemampuan life skill anak-anak, misal, mandi, makan, cuci pakaian, membersihkan rumah, masak-memasak, membantu Ayah Ibu di rumah (John Dewey, “learning by doing,” Albert Bandura, “meniru dan melakukan.” . Melatih agar semakin mandiri, mampu melakukan sendiri, dan mandiri. Keluarga juga tempat mewariskan nilai adat budaya, Sehingga anak-anak menjadi anak yang beradat dan berbudaya, tidak tercabut dari akar rumputnya.
  3. Sosialisasi dan kemitraan. Keluarga adalah tempat belajar berelasi dan berkomunikasi. Interaksi dan komunikasi pertama adalah keluarga. Proses relasi, interaksi, komunikasi Ayah dan Ibu, dalam cinta, ada prokreasi regenerasi, lahirlah anak-anak. Interaksi, relasi, komunikasi dan kemitraan antar ketiganya, perlu teduh dan cinta kasih. Belajar berelasi dalam ikatan kasih. Belajar berkomunikasi dalam ikatan kasih. Relasi, interaksi, komunikasi dan bermitra, itulah sebuah proses sosialisasi. Individu, sebagai makhluk sosial, yang berada dalam ikatan individu keluarga, Keluarganya adalah pelajaran pertama sosialisasinya. Maka, Ayah Ibunya, mestilah teladan terbaiknya dalam cinta kasih. Ketika sosialisasi meluas keluar, saat anak mulai sekolah (TK, SD, dst), ia sudah diisi, berisi, dibekali Ayah Ibu. Sosialisasi di luar tinggal menambah dan memperluas serta memperkaya sosialisasi dirinya.

4. Sekolah iman

  1. Gereja kecil. Orang percaya sudah pindah dari gelap ke dalam terang, dari maut ke dalam hidup. Kesatuan dan perkumpulan mereka adalah gereja. Dalam gereja ada keluarga-keluarga. Keluarga bagian dari gereja. “Keluarga adalah gereja kecil,” kata Crysostomos, seorang Bapa gereja kita. Di lingkungan teman Katolik, kegiatan, ajaran iman dan kasih, yang dilakukan oleh gereja, perlu juga dilakukan dalam keluarga-keluarga. Keluarga bagian penting gereja, sebab keluarga adalah gereja rumah tangga, “ecclesia domestika,” (Paus Paulus VI).
  2. Keluarga sekolah iman. Keluarga sebagai gereja kecil. Yesus Kristus, dasar, pondasi, pusat, Tuhan dan Raja dalam keluarga. Maka, keluarga sebagai gereja kecil, menjadi tempat pendidikan, pengajaran dan praktik iman, pengharapan dan kasih, Kasih mewujud dalam kata dan perbuatan. Iman yang berakar dan bermula pada iman akaliah. Meningkat tumbuh menjadi iman hatiah. Subur, hijau, berbunga dan berbuah dalam iman hayatiah. Menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar, lalu melupakannya.

Ayah-Ibu pendidik pertama dan utama (Ul 6: 7). Mendidik melalui kata dan perbuatan, suri tauladannya. Tempat belajar mengasihi, belajar memaafkan dan mengampuni, yang bersalah (aplikasi lapal Doa Bapa Kami, “ampunilah kami….). Tempat belajar menjadikannya tempat paling teduh, nyaman dan bahagia (aplikasi “datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu”). Tempat belajar mengadu dan berkeluh-kesah, segala pergumulan (tidak dibawa ke medsos, dan org ketiga). Tempat belajar mengalami keselamatan (engkau dan seisi rumahmu… Kis 16:31). Keluarga adalah gereja kecil, sekolah iman, pertama dan utama.

5. Keluargaku bahagia

  1. Umumnya, bahagia? Kalau miskin, tidak punya apa-apa yang cukup, serba kekurangan, bagaimana dapat bahagia? Dalam bayangannya, kalau begitu, serba cukup, serba ada, tidak kekurangan ini itu, Itulah keadaan yang memungkin hidup dapat berbahagia. Oleh karena itu, lalu segala otot, otak, hati, pikiran, tenaga, kekuatan dan waktu, dikerahkan untuk dapat memperoleh segala hal yang menjadi kebutuhannya. Terpenuhinya segala kebutuhan itu, itulah nikmat bahagia? “Kenikmatan adalah kebahagiaan,” (filsafat hedonisme).
  2. Berlomba mengejar bahagia. Tidak salah, sangat baik, sudah semestinya, bila berjuang dan bekerja keras untuk dapat penghasilan yang bagus. Berjuang untuk mencapai pendidikan tinggi, agar dapat pekerjaan dan posisi yang bagus. Sehingga dengan semua itu, dapat penghasilan yang baik. Lalu dapat membeli dan memiliki berbagai kebutuhan dasar, sekunder dan tertier. Hasrat untuk memiliki dapat terwujudkan. Menjadi terpandang dan terhormat, karenanya. Sebab, juga, “manusia melihat apa yang di depan matanya.” Nampak, mungkin, sekilas, “memiliki banyak harta kekayaan dan nama terpandang, menjadi nikmat dan bahagia.” Akan tetapi, dapatkah, kebahagiaan dikeja? Mungkinkah satu keluarga dapat mengejar kebahagiaan? Bijak bestari, “Uang dapat membeli ….(boleh isi apa saja), tetapi uang, tidak dapat membeli kebahagiaan dan keselamatan.” Mustahil, tak seorangpun mampu mengejar kebahagiaan dan keselamatan. Harta benda, kekayaan, pendidikan, jabatan, kehormatan, dapat dicari dan dikejar. Sekali lagi, mustahil, kebahagiaan dan keselamatan dapat dikejar.
  3. AnugerahNya, bahagia kami. Jikalau bukan bersama Tuhan membangun rumah tangga, sia-sialah usaha kita membangunnya. Berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan, yang kesukaannya akan firman Tuhan. Berbahagialah yang mendengarkan firman Allah, dan memeliharanya dalam hidup dan perbuatannya. Berbahagialah yang mengetahui teladan dan ajaran Kristus Tuhan, lalu melakukannya. Berbahagialah yang menjadi pelaku firman, tidak hanya mendengar dan lalu melupakannya. Berbahagialah yang memperhatikan perintah-perintah Allah, sebab damai sejahtera akan seperti sungai yang tidak pernah kering. Kebahagiaannya akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti. Berbahagialah, dan lebih diberkati, sebab lebih bahagia memberi dari pada menerima. Berbahagialah keluarga, yang anak-anaknya mengasihi dan menghormati ayah ibunya. Berbahagialah yang makan hasil jerih payah tangannya, yang jujur dan bersih. Damai sejahtera-Nya, diberikan-Nya kepada kita, tidak seperti yang diberikan dunia kepada kita.
  4. Diberkati untuk menjadi berkat. Itulah damai sejahtera paripurna. Bukan karena hasil dikejar. Semata anugerah-Nya. Ranting melekat pada pokok anggur Sejati, Yesus Kristus, akan berbunga dan berbuah. Di luar Dia, tidak dapat apa-apa. Bila hidup berbuah banyak, berkatNya banyak, maka hiduplah untuk berbagi dan memberi. Berbagi berkat, berbagi kasih, berbagi kebaikan, berbagi pertolongan, berbagi semangat,berbagi waktu. Sebab, lebih bahagia memberi dari pada menerima. Terjemahan lain, lebih diberkati memberi dari pada menerima. Sebab, berbagi itu membahagiakan. Memberi itu membahagiakan. Sebab utama, Allah sudah lebih dahulu memberi dan mengasihi kita, yang terbaik, Kristus tersalib. Itu pemberian-Nya, paling mahal dan terbaik, darah Putra Sorgawi. Sola Gracia, Sola Fide, Sola Christo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *