IDOLA (Menyambut Hari Bapak GKE 2021)

Pbrt. Dr. Tulus To’u, M.Pd

1. Idola

Teladan ideal (typos, Yun.). Typos berarti,

  1. Teladan yang baik dan ideal (good example). Ia menjadi model, contoh, tanda, bentuk, idola dan figur. Sebagai model, ia menjadi orang yang dipakai sebagai contoh dalam melakukan sesuatu. Sebagai contoh, ia adalah orang yang disiapkan untuk ditiru atau diikuti. Bentuk adalah wujud yang ditampilkan berupa sikap, perilaku dan perbuatan yang menjadi teladan. Sebagai teladan, ia menjadi idola yang memiliki daya tarik yang dikagumi, dipuji dan ditiru. Sebagai teladan, ia juga menjadi figur yang menjadi tokoh yang berpengaruh yang diikuti dan ditiru oleh orang lain.
  2. Kata lain, terkait teladan, yakni mengikuti (parakoloutheo) Mengikuti, secara mendalam, berarti terus-menerus mengikuti seseorang yang diteladani, ke manapun orang itu pergi, ia berjalan di atas bekas telapak kaki orang yang diikutinya itu. Mengikuti, juga berarti mengikuti secara intelektual, yakni dengar-dengaran pada perkataan orang yang akan diikutinya. Atau, ia menjadi pengikut seseorang (yang diteladani) , yakni dengan mengabdikan diri dan hidupnya pada pemikiran dan kehidupan orang yang diikutinya. Ia mengikutinya dengan akal-budinya, memahami dan mengerti serta mengiyakan ajarannya sebagai pedoman hidupnya.

2. Berubah melalui proses belajar

Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan setiap individu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku, baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai positif sebagai suatu pengalaman dari berbagai hal yang telah dipelajari. Segala aktivitas psikis yang dilakukan, sehingga tingkah lakunya berbeda, antara sebelum dan sesudah belajar. Perubahan tingkah laku, karena adanya pengalaman baru, memiliki kepandaian/ ilmu, setelah belajar. Belajar juga, sebagai proses perubahan kepribadian seseorang di mana peningkatan kualitas perilaku, seperti peningkatan pengetahuan, keterampilan, daya pikir, pemahaman, sikap, dan berbagai kemampuan lainnya. Karena belajar dan pendidikan, seseorang mengalami kemajuan dan bahkan kesejahteraan. Perubahan itu tidak hanya terjadi pada dirinya. Tetapi, dapat juga, oleh atau melalui dirinya, orang lain, keluarga, masyarakat, bahkan dunia mengalami perubahan.

3. Belajar dengan meniru

Meniru, merupakan salah satu cara belajar. Belajar dengan cara meniru orang lain. Gabriel Tarde, bahwa semua orang memiliki kecenderungan yang kuat untuk menandingi (menyamai atau bahkan melebihi) tindakan orang di sekitarnya. Ia berpendapat bahwa mustahil bagi dua individu yang berinteraksi dalam waktu yang cukup panjang untuk tidak menunjukan peningkatan dalam peniruan perilaku secara timbal balik. Ia memandang meniru memainkan peranan yang sentral dalam tranmisi kebudayaan dan pengetahuan dari suatu generasi ke generasi selanjutnya. Dengan pengamatannya tersebut, Gabriel Tarde sampai pada pernyataanya yang mengatakan bahwa “society is imitation…”

Gabriel Tarde seluruh kehidupan sosial sebenarnya berdasarkan faktor meniru. Walaupun pendapat ini ternyata berat sebelah, namun, peranan peniruan dalam interaksi sosial, cukup besar.. Misalnya, seorang anak belajar berbicara. Mula-mula ia mengimitasi dirinya sendiri kemudian ia mengimitasi kata-kata orang lain. Ia mengartikan kata-kata juga karena mendengarnya dan mengimitasi penggunaannya dari orang lain. Lebih jauh, tidak hanya berbicara sebagai alat komunikasi, tetapi juga cara bertindak, berbuat, berperilaku, akan dipelajarinya melalui proses meniru (imitasi).

Belajar melalui meniru, seorang anak bertumbuh. Ia mulai meniru orang tuanya, meniru saudara-saudaranya. Lebih luas lagi, ia meniru guru-gurunya, meniru dosen-dosennya, dan meniru siapa saja yang dihormati, dihargai, dikagumi dan diidolakannya. Ia meniru dari segala yang didengarnya, segala yang dilihatnya, dan segala yang dibacanya. Semua itu masuk, dan berproses dalam hati dan pikiran serta membentuk perbuatan dan perilakunya. Peniruan yang konstruktif, akan menghantarnya dalam perubahan, pembaharuan, kemajuan dan kesejahteraan hidupnya.

4. Bapa Idola

Bapa, menjadi idola anak-anaknya? Tidak selalu mudah. Maka, ia perlu transformasi kehidupan berkelanjutan (reformata semper reformanda). Agar, bapa-bapa, jadi teladan ideal, diidolakan, jadi contoh dan figure diikuti, ditiru, diteladani oleh orang yang lain, bagaimana?

  1. Telinga yang terarah pada kata: Dengarkanlah. “Listening is the best way to learn. It is no accident that we have one mouth and two ears.When we fail to listen, we shut off much of our learning potential.” (Mendengarkan adalah cara terbaik untuk belajar. Bukan kebetulan bahwa kita memiliki satu mulut dan dua telinga. Ketika kita gagal untuk mendengarkan, kita mematikan banyak potensi pembelajaran kita), (John Maxwell). Seorang beriman,adalah juga seorang murid, berhatimurid. Telinganya telinga terbuka. Terbuka pada suara-suara yang mendidiknya, suara-suara yang membelajarkannya. Hatinya hati yang siap, sedia dan rela menyediakan diri untuk belajar. Belajar pada siapa saja yang dapat memberi nilai-nilai yang bermakna bagi pembelajaran dan pendidikan dirinya. Telinga yang beriman, tentu saja, kata dengarkanlah, tertuju pertama dan terutama pada Tuhan Allah, suaraNya, ajaranNya, pesanNya, amanatNya, dan panggilanNya. Karena, suara ini adalah suara luhur mulia, suara ilahi dari sorga, yang akan menghantar kehidupan berkualitas dan terhormat. John Maxwell, “Jangan sampai gagal mendengarkan” Dia, rugi besar. Sebab, “Dalam Dia kutemukan rahasia hidup sejati, ketika aku menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamatku,” Billy Graham.
  2. Mendengarkan satu-satunya yang benar. Suara dari sorga, suara yang satu-satunya yang benar, di tengah-tengah banyak suara yang mengaku juga sebagai yang benar. Sebab, hanya Yesus Kristus, yang datang dari sorga, yang diutus Allah Bapa, untuk menjumpai mnusia di dunia. Tetapi ada saja yang kemudian, bersuara mengaku juga utusan Allah, tetapi tidak ada nubuat baginya sebagai utusan sorgawi. Suara dari sorga ini adalah Firman yang benar, kata yang benar, janji yang benar, ajaran yang benar, selalu benar, tidak ada dusta dan berdusta. Karena, Ia benar adanya, kebenaran ada padaNya. Ia sumber kebenaran.
  3. Pelaku firman. SuaraNya, patut disimak, dicermati, diperhatikan, didalami, dipelajari dan direnungkan. Dengarkanlah dan lakukanlah. Menjadi pelaku-pelaku firman. Bukan didengar, lalu dilupakan. Kekuatan hidup berhadapan dengan gelombang kehidupan, yang memporak-porandanya, ketika Firman telah menjadi makanan rohaninya. Firman menjadi air hidup baginya. Firman menjadi pelita hidupnya. Sehingga kuat tangguh perkasa, melewati gelombang dahsyat itu. Segala perkara dapat kutanggung, di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
  4. Transformasi hidup. Pakaian kotor, tinggal cuci dengan sabun. Rambut dan badan kotor oleh banyak kegiatan, tinggal mandi pakai sabun dan shampoo, akan segar dan bersih. Akan tetapi, bila hati, pikiran dan hidup telah dikotori lumpur segala kenajisan, kesalahan, kejahatan, dan berbagai dosa, dengan apakah akan dibersihkan? Dengan apakah akan mencucinya? Tidak seorangpun dapat mencuci hati, pikiran dan hidup yang dikotori lumpur salah dan dosa. Transformasi hidup hanya mungkin terjadi, ketika Allah turun tangan, campur tangan, membersihkan, dan mencucinya dengan darah paling mahal, darah Kristus. Untuk itu, seseorang perlu menyambut Kristus Firman yang hidup. Mendengar firmanNya, menyambut dan menerimaNya, percaya padaNya, serta menjadi pelaku-pelaku firman. Ketika Firman meresap masuk ke dalam hati dan pikiran, lanjut meresap ke dalam syaraf dan otot-otot yang melangkahkan kaki dan berjalan dalam kebenaran. Tangan-tangan yang terulur mencintai dan mengasihi. Tangan-tangan yang mengerjakan pekerjaan yang baik. Mulut, bibir dan lidah yang berkata baik dan benar, lurus dan luhur, bijak berhikmat. Bibir yang menggembalakan banyak orang. Meneduhkan dan mendamaikan. Sehingga dunia ini menjadi tempat yang nyaman dan teduh untuk dihuni dan didiami. Karena, firman dan iman, telah mewujud dalam kata dan perbuatan.
  5. Kasihnya 3 dimensi. Allah mengasihi dunia. Kristus diutus membawa kasih. Manusia haus akan kasih. Sebab dosa mengikis dan meniadakan kasih. Dunia krisis kasih. Karena itu, dunia, manusia membutuhkan kasih. Untuk itu, Kristus menghadirkan kasih dari sorga. Setiap orang yang percaya, menerimaNya, dipanggilNya untuk hidup dalam kasih dan mengasihi. Kasih berdimensi tiga.
    1. Kasih kepada Allah. Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Mustahil dapat mengasihi, tanpa menerima kasih Allah. Kasih Allah,adalah sumber dan asal mula kasih kita. Kasih kekalNya, memampukan kita mengasihi.
    2. Kasih kepada sesama, karena Allah juga mengasihi mereka. Mustahil kita mengasihi Allah, tanpa mengasihi kekasih-kekasih Allah itu. Mengasihi sesame adalah bukti kasih kita kepada Allah.
    3. Kasih kepada diri sendiri. Diri kita adalah sentral, pelaku, pelaksana, pewujud firman, ajaran dan kasihNya. Sebab itu, kita mengasihi diri kita, sebab Allah lebih dahulu mengasihi kita. Bersumber kasih kekalNya, kita dimampukan mengasihi diri kita, sehingga kita dimampukan mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita.
  6. Bagaikan kupu-kupu indah melayang. Kita terpukau kala bertemu dan menyaksikan sekelompok kupu-kupu warna-warni terbang melayang,lalu hinggap ke sana kemari. Akan tetapi, yang tampak itu, adalah yang kini nyata. Sesungguhnya, bila diruntut ke belakang, tidak ada yang indah. Kupu-kupu kini cantik jelita penuh pesona warna-warni, dulunya adalah ulat yang sangat tidak menarik, bahkan jelek dan sangat menakutkan bagi beberapa orang. Ulat itu, lalu bertransformasi menjadi kepompong. Kepompong juga tidak menarik dan jelek. Kemudian, kepompong bertransformasi menjadi kupu-kupu cantik jelita indah pesona. Demikianlah, seorang bapa yang mengalami transformasi hidupnya, akan menjadi bapa idola, yang indah pesona menarik hati sesamanya. Firman yang didengar, diupayakan mewujud dalam kata dan perbuatan, akan mentransformasikan hidupnya. Ia bagaikan kupu-kupu yang cantik indah pesona.

5. Makna kata

Proses menulis ini, telah menemukan makna kreatif IDOLA:
I = Inilah orang yang kukagumi, bapaku yang aku teladani jejaknya
D = Dari dialah, yang aku lihat dan dengar darinya, aku bertumbuh dalam keluarga
O = Oleh didikan, ajaran, suri tauladannya, aku dibentuk menjadi pribadi berkarakter
L = Lantunan suara dan perilakunya, menjadi sarana ajaran dan didikan keluarga
A = Aku melangkah menyongsong masa depan berbekal keteladanannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *