SELAMAT, 182 TAHUN GKE

Oleh Pbrt. Dr. Tulus To’u, M.Pd

  1. Pandemi Disentri 1880 di daerah Maanyan

Hadi Miter, menerjemahkan naskah laporan Dokter H.Britainstein, yang bertugas di benteng Belanda di Muara Teweh, tentang Pandemi Disentri tahun 1880 di daerah Siong-Telang dan Tamiang Layang, a.l., sbb.
Pada tahun 1880, putra dari kepala suku Suto-Ono menulis surat kepada saya, dalam bahasa Melayu. Dia memberi tahu saya bahwa wabah disentri telah merebak di distriknya. Saya khawatir epidemi dapat mencapai benteng kami (di Muara Teweh), jika tidak dihentikan dalam perkembangannya. (Perjalanan dilakukan dengan perahu besar, Muara Teweh, Buntok, Mengkatif, Patai, Siong-Telang dan Tamiang Layang).

Pak kepala distrik mengantar saya berkeliling, dan menemukan lapangan yang luas untuk lokasi kegiatan saya. Tempat dimana saya dapat merawat banyak pasien, missionaris Faige nampaknya kesulitan mengajarkan kebersihan kepada orang Dayak. Orang Dayak meletakan jenazah korban dysentri di dalam rumah selama tiga hari, sampai akhirnya mereka memindahkan peti mati ke dalam hutan. Ada dua kasus tentang peti mati, ada yang ditutup dengan penutup yang terbuat dari kayu, memiliki lubang kecil di tengah bagian bawah; untuk mengeluarkan cairan dari mayat yang membusuk. Saat jenazah masih disemayamkan dalam rumah, bau mayat dalam wadah penyimpanan cairan itu menusuk hidung, walau kadang sudah dicampur dengan minyak dan jeruk nipis. Yang kedua, jenazah diletakan di ladang atau di pinggiran kampung, butuh waktu lama menunggu “festival upacara kematian”. Mereka menunggu sampai jenazah benar-benar kering atau menunggu sampai punya uang. Kadang butuh waktu 1 sampai 2 tahun, sebelum jenazah dikremasi (Ijambe).

Ketika saya tiba, sebagian besar keluarga almarhum, bahkan tidak memiliki tempat untuk menampung cairan dari pembusukan mayat. Mengenai kondisi epidemi tidak didiskusikan lebih lanjut karena situasi sudah agak reda. Di lain pihak tentu saja, saya tidak berhasil mengatur agar jenazah segera dikuburkan, tetapi setidaknya mereka setuju agar jenazah dalam peti mati dimasukan campuran kapur, belerang, dan abu, untuk mengurangi bau. Saya juga menyarankan agar jenazah yang busuk, sebaiknya jangan diletakan di dalam rumah, tetapi di luar, yang jauh dari perkampungan.

Keesokan harinya saya pindah ke ke Tamiang Layang, di mana Pak Faige menemani saya. Menemui Seorang misionaris dari Barmen Mission Society, tinggal di sini, bernama Tromp bersama istri dan anaknya. Di Tamiang Layang mereka bercerita tentang keberhasilan mereka dalam memindahkan hari pasar Dayak yang biasanya diadakan setiap hari Minggu, menjadi hari Senin. Jadi pada hari keenam saya memberikan masukan kepada kedua misionaris tersebut. Saya memberi petunjuk bagaimana memperlakukan para pasien dysentri malang dan meningkatkan kondisi kebersihan serta sanitasi mereka. Saya juga meminta para kepala desa untuk memberi tahu saya tentang penyebaran epidemi melalui laporan mingguan, saya mendapat gambaran yang baik tentang kemajuannya, yang sangat mengkhawatirkan saya; setiap minggu saya menerima laporan dari Kampung, yang lebih dekat ke benteng. Kami berhasul menekan penyebaran pandemic disentri dengan biaya yang tidak sedikit.

2.Fridolin Ukur : Kegelapan mengungkung

Membaca sepotong kisah laporan Dokter H.Britainstein, di atas, kita paham, kalau beredar berita bahwa Borneo dilingkupi kegelapan, oleh budaya, adat, tradisi dan kebiasaan, dan kepercayaan yang merongrong kehidupan. Cara hidup yang jauh dari ukuran kesehatan. Malah mengancam kesehatan. Ritual kematian yang memiskinkan. Gambaran keterbelakangan yang amat jauh.

Seperti diulas Fridolin Ukur, sekitar 1830, tersiarlah kabar berita di Jerman, tentang Orang Dayak di Borneo, hidup dan berada dalam kungkungan kegelapan. Jauh tertinggal dalam peradabannya, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, sangat menyedihkan. Hidup terkungkung kemiskinan, oleh tradisi, adat budaya, dan ketakutan pada kekuatan roh-roh, yang membelenggunya.

Kabar itu menggugah batin Pekabar Injil, Barnstein dan Heyer, berangkat 15 Juli 1834 dari Jerman. Barnstein, hampir setahun kemudian, tiba, 26 Juni 1835, di Banjarmasin, Borneo. Inilah, awal Terang Injil Kristus menerangi jiwa-jiwa dalam kegelapan, orang Dayak. Sejak itu, mulailah layanan Injil Terang Kristus, pendidikan, kesehatan, keterampilan, dibuka. Buah pertamanya, seorang Dayak, percaya dan terima Tuhan Yesus dan dibaptis pada 10 April 1839, di Bethabara. Itulah momen bersejarah dipilih sebagai hari lahir GKE. Syukur kepada Tuhan, benih Terang Kristus terus menyebar, disemai dan bertumbuh.

Injil, Terang Kristus, itu, terus diwartakan, sebab sisa-sisa kebiasaan hidup lama, masih kelihatan diteruskan sampai sekarang, yang kurang produktif, memiskinkan, dan yang merusak motivasi hidup yang baik. Hal itu, antara lain, kebiasaan berjudi pada malam hari, bila ada yang meninggal dunia. Dibalut alasan budaya menemani keluarga duka. Atau dilakaukan di hutan di dekat kampung, untuk hiburan,kata mereka. Juga, melakukan acara minum minuman beralkohol tinggi, sampai pusing-pusing dan mabuk, yang menurunkan kesadaran dirinya.

3.Surat Yohanes: Hidup dalam kegelapan

Dunia ini, medan, panggung tempat kekuatan dan kuasa Terang dan gelap tarik-menarik. Tarikan kuasa gelap amat kuat terhadap manusia. Bila manusia memilih ikut kuasa Terang, maka itulah yang akan mewarnai hidupnya. Tetapi bila orang memilih hiidup dalam kuasa gelap. Maka, kuasa itulah yang akan mengendalikan perilaku hidupnya.

Kenyataan, manusia condong pilih mana? Oh…. ternyata ia lebih memilih hidup dalam kegelapan. Karena hidup dan perbuatannya jahat, tidak baik, buruk, kotor tercemar dosa. Untuk menyembunyikan dirinya, ia merasa lebih nyaman hidup dan tinggal dalam kuasa kegelapan.

Apa hasil, akibat, dampak hidup dalam kegelapan? Kita dengar, tidak ada kebenaran. Hati, pikiran dan hidupnya tidak ada tersimpan dan tertulis loh-loh kebenaran. Konsep yang ada adalah konsep yang bertentangan dengan kebenaran. Sebab itu, yang dilakukan dan dikerjakannya adalah hal-hal yang tidak benar, tidak baik, tidak lurus, berdampakburuk bagi kehidupan. Buah kehidupannya tidak baik,tidak bermanfaat bagi sesamanya. Ia hanya hidup bagi dirinya, mementingkan diri sendiri. Bahkan dengan mengorban dan merugikan pihak lain. Sebab, kegelapan telah membutakan hidupnya. Ia tidak tahu kemana ia pergi, tidak tahu apa yang dilakukannya.

5.PanggilanNya: Hidup dalam Terang Kristus

Allah adalah Terang, dalam Dia tidak ada kegelapan. Ketika semesta dalam gelap-gulita, Allah menciptakan Terang. Terang telah hadir, gelap menjadi sirna. Allah menjadi sumber terang bagi dunia dan hidup manusia. Berita Alkitab, Allah yang menjadi manusia dalam diri Kristus. Karena itu, Kristus adalah Terang dunia. Terang itu telah datang dan sedang datang ke dalam dunia. Semestinya, dunia menyambut, percaya dan menerima Dia, Terang Sejati bagi hidupnya.

Dengan cara demikian, maka manusia tidak lagi berjalan dalam kegelapan. Kegelapan tidak menguasainya. Ketika TerangNya hadir, maka kuasa gelap menyingkir dari hidupnya. Sebagai orang yang telah percaya dan terima Tuhan, maka ia patutlah mengaku dosanya, sehingga dosanya diampuni, hidupnya disucikan. Ia menjadi ciptaan baru. Hati, pikiran dan hidupnya telah diperbaharui.

Kristus memanggil agar mereka membawa Terang itu, dan hidup dalamTerangNya. Kamu adalah terang dunia. Biarlah terang itu bercahaya kepada semua orang. Jadilah anak-anak terang. Terang Kristus inilah yang telah membaharui orang Dayak, sejak Injil, Terang Kristus tiba di Borneo, 26 Juni 1835. Lalu, orang Dayak pertama terima dan percaya Terang itu, dibaptis 10 April 1839. Terang itulah telah mengubah dan memajukan hidup orang Dayak.

SELAMAT, 182 TAHUN GKE. AKU BANGGA GKE.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *