PEMIMPIN MUDA BERWIBAWA (Secuil Orasi Dies Natalis 89, STT GKE, 1 Juli 2021)

Oleh Pbrt. Dr. Tulus To’u, M.Pd

1. Dipimpin pemimpin muda belia ?

Saya selesai S1 di Duta Wacana, Yogya, usia 26 tahun, dan usia 32 tahun, ditugaskan sebagai Kepala SMPK Yahya Bandung. Sebaliknya, mahasiswa saya di STT GKE, rata-rata lulus usia 22 tahun, menjadi pendeta usia 24 tahun. Wow…sangat muda belia, sudah menjadi pemimpin di jemaat. Padahal, ”Pemimpin adalah orang yang mempengaruhi orang yang lain.” Dapatkah yang muda belia ini menjadi sosok berwibawa, dihormati oleh orang-orang yang dipimpinnya?

Rasul Paulus, kepada Timotius yang masih muda, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah, karena engkau muda,” ( 1 Tim 4: 12 a). Ada stigma, yang muda kerap kali dianggap lebih rendah, dengan beragam alasan. Paulus mau mengubah stigma itu, Meskipun masih muda, Timotius dapat menjadi pemimpin dihormati dan berwibawa. Caranya? “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu,” ( 1 Tim 4: 12 b).

2. Krisis keteladanan

Tanpa integritas, “Leader who do not practice what they preach,” yakni pemimpin yang tidak mempraktikkan apa yang diajarkan dan dikhotbahkannya.Wibowo, itulah penyakit pemimpin! Tom Yeakley . “Menjadi pemimpin yang berintegritas adalah kunci untuk memiliki pengaruh… tanpa integritas.. ia akan dikritik, diremehkan, tidak diindahkan, akan kehilangan dukungan dan ditinggalkan. Kurangnya integritas menjadi faktor utama merusak kepemimpinan.” Rudy Budiman berkata, “Krisis kepemimpinan akan timbul, bila mana keteladanan hidup pemimpin itu tidak ada.”

Ki Hajar Dewantoro, menurutnya, seorang pemimpin, (Ing madya mangun karsa) di tengah sebagai pemberi gagasan-motivasi, (Tut wuri hanyani) di belakang sebagai mesin pendorong agar orang bergerak maju, (Ing ngarso sung tulada), di depan memimpin dengan keteladanan. Pemimpin seharusnya menjadi teladan. Tata gereja GKE, “Keberadaan kehidupan pendeta menjadi teladan yang baik bagi warga jemaat dan masyarakat.” Dalam Katekismus GKE , “Mereka harus menjadi teladan … baik di gereja maupun di masyarakat.”

3. Dibutuhkan pemimpin yang dapat diteladani

Menghadapi perubahan dibutuhkan pemimpin berwibawa. John Edmund Haggai dalam bukunya “ Lead On,” dalam perubahan itu dibutuhkan para pemimpin yang memiliki kemampuan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Orang yang sungguh-sungguh hidup dalam kuasa Allah dan menjadi anak Allah. Merekalah yang akan dapat menjadi pemimpin yang membawa perubahan yang baik.

Jemaat membutuhkan pemimpin yang layak diteladani. “Tidak ada yang lebih membingungkan ketimbang orang-orang yang memberikan nasihat yang baik, namun memberikan teladan yang buruk. Tidak ada yang lebih meyakinkan dari pada orang-orang yang memberikan nasihat yang baik dan memberikan teladan yang baik. Para pemimpin yang baik selalu sadar akan fakta bahwa mereka sedang memberikan teladan dan orang-orang akan melakukan apa yang mereka lakukan. Semakin baik tindakan para pemimpin, semakin baik pula tindakan-tindakan para pengikutnya.” kata John C. Maxwell.
Mantan pimpinan GKE, Tawar Soewardji, bahwa warga jemaat merindukan dan membutuhkan para pemimpin jemaat yang patut dan layak untuk diteladani dan diikuti sikap dan perilakunya.

4. Meskipun muda, berwibawa dihormati

Timotius pemimpin muda berwibawa. Saat Timotius dipilih dan diangkat untuk membantu Paulus, usianya kira-kira 20 tahun. Pada saat ia mulai memimpin jemaat, usianya kira-kira 35 tahun. Usia sekitar itu, masih dianggap terlalu muda untuk memimpin jemaat. Sedangkan para penatua yang dipimpinnya, jauh lebih tua dari dirinya. Sehingga, ada kesulitan bagi yang memimpin dan yang dipimpin. Yang muda, mengajar dan memimpin yang tua. Yang tua diajar dan dipimpin oleh yang muda. Timotius yang masih muda menerima tugas dan tanggung jawab kepemimpinan dari Paulus. Sebab itu, Paulus memberikan nasihat kepada Timotius Meskipun masih muda, ia dapat berwibawa, karena keteladanannya.

Karakter berwibawa dalam pendidikan. Pengalaman dalam pendidikan bahwa wibawa pendidik, dapat dialami oleh kekuatan implementasi karakter, a.l.

  1. Disiplin,
  2. Teladan kata dan perbuatan,
  3. Rendah hati, sabar dan tabah,
  4. Tegas, tetapi sersan (serius dan santai).
  5. Berilmu dan aplikatif, .
  6. Berbicara hati-hati dan bijak,
  7. Emosi stabil, self control terkendali,
  8. Jujur dan terbuka,

Wibawa bermuara karakter imaniah, yang perlu ditumbuhkan dalam diri pemimpin muda, a.l. (1).Melakukan pekerjaan Tuhan, dengan do my best, giving my best. (2).Iman tumbuh berbuah. Thomas Groome: iman kristen sebagai pengalaman nyata dan bertumbuh sesuai perkembangannya: 1.Iman sebagai kepercayaan (believing). 2. Iman sebagai yang diyakini (trusting). 3.Puncaknya, Iman mewujud dalam kata-perbuatan (doing). (3).Hidup berintegritas, menyatunya hati, pikiran, perkataan dan perbuatan. (4).Hidup berkorban Dari sana, 4 hal di atas, akan memancar aura wibawa, kehormatan dan penghargaan, meskipun masih muda. Yang melayani dengan baik, mendapat tempat yang baik di hati jemaat, dan patut dihormati dua kali lipat (2 Tim. 3:13; 5:17).

5. Satu-satunya cara berwibawa dihormati

Rasul Paulus, kepada Timotius yang masih muda, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah, karena engkau muda,” ( 1 Tim 4: 12 a). Caranya? Satu-satunya cara: Jadilah teladan, sbb:

  1. Teladan iman. Sehingga, dengan itu, “Pemimpin menjadi model karena imannya. Pemimpin adalah model hidup beriman.” kata Stevri Indra Lumintang.
  2. Teladan kasih. William Barclay, teladan kasih bermakna: pertama, melalukan dan memberikan yang terbaik bagi Allah dan sesamanya. . Kedua, ia beralih dari berpusat pada diri sendiri, kemudian berpusat pada sesamanya. Ketiga, rela berkorban.
  3. Teladan perkataan. Pemimpin adalah teladan dalam kata-kata. Oleh karena pemimpin banyak melaksanakan kepemimpinannya melalui kata-kata dan ucapannya. Sebab itu, diharapkan kata-katanya menjadi panutan bagi banyak orang.. Kata bijak, “Seseorang akan ditinggikan karena apa yang dia ucapkan. Sebaliknya juga, akan direndahkan oleh apa yang diucapkannya.”
  4. Teladan tingkah laku. Secara kependidikan, orang lebih mudah berbuat sesuatu melalui contoh, dari pada melalui kata-kata. Metode teladan adalah metode yang baik untuk mengajar sesuatu untuk dilakukan oleh orang lain.
  5. Teladan kesabaran. Panjang sabar terhadap orang-orang yang menganiaya dan menantang dia.” Hal ini dibutuhkan agar mampu bertahan dan melewati himpitan dan kesesakan dalam pewartaan Injil Kristus.
  6. Teladan ketekunan. Pilihan mengikut Yesus adalah memikul salib penderitaan, ditolak, dibenci, diburu dan dianiaya. Karena itu dalam menghadapi penderitaan karena memberitakan Injil Kristus, perlu kekuatan dan ketekunan menanggung penderitaan. Ketekunan adalah “(hypomone) = kesabaran menderita akibat keadaan yang menyusahkan … ketahanan menanggung berkaitan dengan perburuan dan penganiyayaan,” Ketekunan juga berarti “Keuletan dalam penderitaan,”
  7. Teladan kesucian. Iblis telah tahu kelemahan manusia. Ia pandai membujuk rayu dan tipu daya. Para pemimpin target utamanya. 5 Ta, (Harta, tahta, kuasa, wanita, pria, cinta), kerap kali jadi sarana dan umpan nikmat untuk menjatuhkan para pemimpin. Karena itu, jagalah kekudusan diri. Roh Allah yang ada padamu lebih besar daripada roh-roh yang ada di dunia. Lawanlah iblis dengan iman yang teguh. Tunduklah pada Allah, dan lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu

6. Makna kata

W = Waspadalah pada hal-hal yang merongrong wibawa dan kehormatanmu
I = Impian suci taruh di hati pikiranmu, praktikkan ajaran keteladananNya
B = Berjuanglah dalam iman, do your best, giving your best
A = Andalkan wibawa ilahi, taat setia pada Tuhan Yesus
W = Watak yang baik dan konstruktif, optimalkan dalam perilaku
A = Ajaib akan engkau alami, sebagai anugerah Tuhan. Dihormati dan dihargai dua kali lipat.

Selamat merayakan
Dies Natalis ke 89, STT GKE, 1 Juli 2021,
tetap dan terus eksis serta berhasil mendidik
calon pemimpin berwibawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *