MINGGU ADVENTUS DALAM KALENDER GEREJAWI

Oleh Pdt. May Linda Sari, D.Th

Pengantar

            Tanpa terasa bulan Desember sudah tiba dan bagi kaum Kristiani, Desember adalah bulan Natal. Sejak tanggal 1 Desember, gereja-gereja Protestan di Indonesia khususnya sudah mulai menggelar ibadah dan perayaaan Natal. Sementara kaum Katolik baru merayakan Natal pada tanggal 25 Desember dan sesudahnya. Pertanyaannya: “Tidakkah terlalu cepat merayakan Natal  sementara seharusnya ada 4 minggu Advent yang disebut sebagai minggu-minggu persiapan yang akan dijalani sebelum Hari Natal? Lalu, Apakah salah bila merayakan Natal pada masa Adventus?  Apakah sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Gereja dengan memasukkan 4 Hari Minggu Adventus di dalam penanggalan gereja itu?”   Topik itulah kiranya yang akan ditelusuri melalui tulisan singkat ini.

Kalender Gereja

Kalender Gereja atau Penanggalan Gereja biasanya berhubungan dengan liturgi gereja, sehingga lazim disebut Kalender Liturgis. Jadi, penanggalannya berbeda dengan penanggalan Masehi. Penanggalan Masehi dimulai pada tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember, sedangkan Kalender Liturgis dimulai perhitungannya pada Hari Minggu Advent I sampai pada hari Minggu Trinitas (masa biasa pasca Hari Minggu perayaan Hari Pentakosta).

Kalender Liturgis berfungsi sebagai acuan gereja dan orang Kristen untuk mengikuti kehidupan Yesus Kristus dalam hidup dan peribadahan melalui kedua rangkaian perayaan peristiwa Yesus Kristus: kelahiran-Nya dan kebangkitan-Nya. Dengan acuan ini pembacaan dan pemahaman Kitab Suci dapat berlangsung secara terarah. Dalam Kalender Liturgis Gereja dapat ditambahkan perayaan gerejawi lokal-kontekstual, baik yang terhubung dengan perayaan nasional, maupun kultural. Beberapa gereja dalam setting agraris menambahkan Perayaan Pengucapan Syukur Panen dalam Kalender Liturgisnya. Itu memang tidak langsung berhubungan dengan peristiwa (hidup dan karya) Yesus Kristus. Tetapi Pengucapan Syukur Panen terkait dengan kesadaran dasar pada pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan manusia, sebagaimana juga

            Dalam pemahaman Kristen, liturgi atau ibadah adalah perayaan. Kita beribadah karena merayakan karya Allah melalui peristiwa Kristus. Dalam perayaan itu terkandung unsur-unsur pengenangan (anamnesis), peniruan (mimesis), dan pertemuan (koinonia). Pengenangan (anamnesis) menunjuk pada ibadah sebagai pengingatan kepada hidup dan karya Yesus Kristus, melalui kata-kata, tata gerak, doa, dsb. Mimesis menunjuk pada peniruan, misalnya Perjamuan Kudus meniru makna dan bentuk perjamuan akhir Yesus dengan murid-murid-Nya. Koinonia menunjuk pada pertemuan, baik antara umat, maupun umat dengan Tuhan.[1] Dengan demikian, Kalender Gereja dapat menolong kita memaknai setiap perayaan dan peribadahan yang dilakukan di dalam gereja dan merayakannya di saat yang tepat.

Minggu-minggu Adventus

Hari Minggu Advent 1 sendiri biasanya ditentukan dengan melihat hari Minggu yang terdekat dengan tanggal 30 November.  Bila merunut perhitungan setiap tahunnya, maka Hari Minggu Advent 1 kemungkinan berada di antara tanggal 27 November – 3 Desember.  Contoh untuk tahun 2023 ini Hari Minggu Advent 1 jatuh pada tanggal 3 Desember 2023 dan bila menghitung ada 4 Hari Minggu Advent, maka Hari Minggu Advent I-IV itu diperingati pada tanggal 3, 10, 17 dan 24 Desember.

Sesuai dengan maknanya, Advent adalah masa persiapan menyambut kedatangan Yesus, baik pada kedatangan-Nya yang pertama maupun kedatangan-Nya yang kedua kali dalam peristiwa yang disebut sebagai Parusia. Secara penanggalan gereja (Kalender liturgis), ada rangkaian peristiwa yang berhubungan dengan peristiwa kedatangan Yesus yang pertama, yaitu: empat Hari Mingg Advent (I-IV) – perayaan natal – perayaan Epifani (dirayakan tiap tanggal 6 Januari) dan berakhir pada hari Minggu Transfigurasi (yakni hari Minggu sebelum Hari Rabu Abu).

            Sesungguhnya, Minggu-minggu Advent adalah masa yang sangat penting. Hanya saja maknanya tersembunyi di balik kegembiraan dalam perayaan Natal yang terlalu dini. Ciri khas minggu Adventus adalah keberadaan krans dan 4 batang lilin. Kehadiran krans dan lilin ini tidak asal ada karena ada makna simbolik di dalamnya.

Pertama, krans yang dibuat dari daun-daun cemara berwarna hijau dengan lima bunga berwarna merah. Krans atau lingkaran, serupa mahkota ini adalah simbol kekekalan, kemuliaan; daun cemara berwarna hijau melambangkan pengharapan; sedangkan lima bunga berwarna merah adalah simbol lima luka di tubuh Tuhan Yesus ketika Ia disalibkan. Krans ini diletakkan di atas meja atau kalau di gereja di letakkan di meja depan mimbar. Yang menarik, di masa kini krans ini seringkali dipahami sebagai hiasan yang digantungkan di pintu atau bisa juga ditempelkan di atas pembatas antar ruangan.

Kedua, lilin-lilin. Ada yang memuat empat batang lilin (3 lilin berwarna ungu dan 1 lilin berwarna merah muda) atau lima batang lilin (3 lilin berwarna ungu, 1 lilin berwarna merah muda dan 1 lilin berwarna putih). Lilin-lilin ini dalam tradisinya diletakkan di dalam krans.  Posisi lilin ini berbeda-beda: ada yang mendirikannya secara berjejer saja atau menaruhnya di kaki dian bercabang lima (Manorah). Lilin berwarna putih biasanya berukuran lebih besar daripada lilin yang lain dan di tempatkan di antara lilin-lilin itu (di bagian Tengah). Lilin-lilin itu dinyalakan pada setiap hari Minggu Advent dan melambangkan makna teologis setiap minggu Advent yang jika sesuai urutannya adalah sebagai berikut: Pengharapan (ungu), kasih (ungu), sukacita (pink) dan  damai (ungu).[2] Lilin terakhir yang dinyalakan adalah yang berwarna putih yang dinyalakan pada hari Natal. Keempat lilin pada Hari Minggu Advent merupakan pengingat bahwa kita harus berjaga-jaga dan bertekun dalam pengharapan kedatangan Allah yang mulia ke dalam dunia yang fana ini.

Dari kehadiran krans dan lilin-lilin yang dinyalakan pada masa Advent sebenarnya menyimbolkan tentang pengharapan kekekalan dan kemuliaan Tuhan Yesus yang akan datang.  Ia datang untuk memberikan hidup-Nya bagi keselamatan manusia. Adventus sebenarnya adalah masa “mengingat” penderitaan Yesus, masa berefleksi, merenung dalam ketenangan dan hening tentang siapkah kita menyambut-Nya? Apakah kita sudah layak menerima hadir-Nya? Jadi, masa Adventus sesungguhnya bukan cerita pesta yang meriah namun masa berharap menantikan hadirnya Allah dalam hidup kita.

Ketika gereja-gereja Protestan merayakan natal di minggu-minggu Advent sebenarnya dapat menghilangkan makna penantian kedatangan yang harus dipersiapkan pada masa Advent. Akibatnya, sifat perenungan yang harusnya muncul dalam minggu Adventus berubah menjadi pesta saja. Sudah saatnya para pemimpin gereja membangun kesadaran tentang makna Adventus. Atau mulai memberi makna baru dalam setiap perayaan natal yang sudah terlanjur diagendakan itu dengan memasukkan unsur dan symbol-simbol liturgi Advent, termasuk pilihan pembacaan Alkitab dan lagu-lagunya, sehingga menjadi persiapan menuju perayaan Natal. Tentu saja untuk itu perlu pembinaan baik para pejabat maupun warga gereja untuk memahami dan menjalankan Kalender Liturgis sebagaimana mestinya. Akhirnya, selamat memaknai minggu-minggu Advent. Tuhan Yesus memberkati. (May Linda Sari)


[1] Rasid Rachman, “Liturgi Teologi Perayaan” dalam http://pendetagki.berteologi.net/index.php?Itemid=2&id= 66&option=com_content&task=view

[2] “Empat Makna Krans Adven di Masa Pandemi”, daring di https://www.hidupkatolik.com/2020/11/27/50439/empatmakna-krans-adven-di-masa-pandemi.php

Leave a Reply

Your email address will not be published.