HeadlineKanan-SliderSlider

HILANG (Menyambut Hari Reformasi dan Bapa GKE, Refleksi Lukas 19 : 1-10)

I. Kaya

  1. Motivasi berprestasi. David Mc.Clelland, manusia sebagai makhluk kerja dan bekerja, di dalamnya, ada motivasi untuk berprestasi:
    1. Kebutuhan akan prestasi. Orang bekerja untuk berprestasi. Dengan prestasi, akan ada hasil atau pendapatan yang baik. Hasil itu, dengannya, segala kebutuhan dapat dibeli dan dipenuhi.
    2. Kebutuhan akan kekuasaan. Untuk mencapai kekuasaan itu : bekerja keras. Memobilisasi segala potensi diri. Dengan segala potensi itu, berusaha dan berjuang meraih kekuasaan. Harapannya, dengan hal itu, akan mendapatkan hasil atau pendapatan yang besar. Kembali lagi, pendapatan itu, dapat untuk membeli dan memenuhi segala kebutuhan hidup.
  2. Kaya, supaya dapat berbagi-memberi. Dalam hal di atas, harta, benda, uang, kaya, sebagai hasil kerja keras dan prestasinya. Tidak semua orang dapat kaya. Tetapi, naluri setiap orang, kaya ada dalam keinginan hatinya. Perjuangan, kerja keras, lingkungan, situasi, potensi diri, pendidikan, keterampilan, dan rejeki, tiap-tiap orang tidak sama. Kaya, motif yang baik. Kalau kaya, dapat berbagi memberi dan menolong sesama. Kaya, ada peluang untuk menolong sesamanya. Lebih banyak yang kaya, lebih banyak yang dapat menolong dan ditolong. Kalau miskin, akan jadi beban diri, keluarga, masyarakat, negara, tentu juga beban gereja.

II. Dimensi yang hilang

Tim Lahaye, melihat multidimensi diri manusia:

  1. Dimensi tubuh. Bagian sisi ini nyata dan konkrit. Ia sangat peka terhadap beragam stimulasi dari luar atau dalam. Segala apa yang dilihat mata, didengar telinga, begitu mudah tergoda. Ada banyak orang hanya dan cenderung mengutamakan kebutuhan jasmani dan materi. Seolah-olah, berbahagia adalah cukup atau lebih, terpenuhinya kebutuhannya. Lalai sisi lain?
  2. Akal pikiran. Sisi ini berpusat di otak manusia. Segala pengalaman hidup direkam di sini. Proses pendidikan memungkinkan peningkatan kemampuan akal pikiran. Wawasan pengetahuan akan memajukannya. Pengalaman hidup, sikap, perilaku, dapat berkontribusi bagi perbaikan dalam perbuatannya. Ia dapat menjadi lebih hat-hati, waspada dan bijak. Kesadaran, akal pikiran sering didewakan, melebihi status sebagai manusia ciptaan Allah.
  3. Perasaan. Perasaan pusatnya di hati. Hati, tempat segala tawa sukacita, kegembiraan, kebahagiaan. Juga, tempat kesedihan, tangisan dan air mata. Tempat kemauan, niat, semangat, daya juang. Ya, tempat segala macam ragam rasa-perasaan. Yang mendasar, manusia adalah hatinya. Hati yang baik, maka hidup jadi baik. Hati yang jahat, maka hidup jadi jahat. Yang keluar dari mulut, meluap dari hatinya. Hati, muara perilaku etis. Bijak, bila di hati ada iman, Allah bertakhta.
  4. Spiritual. Ini, bagian paling dalam pada diri manusia. Sarana berhubungan dengan Tuhan, Ruangan terdalam ini, hanya dapat diisi oleh rahmat Tuhan Yesus Kristus. Doa, ibadah, baca Firman, sarana mengisi bagian ini. “Manusia hidup tidak hanya dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Yang berbahagia, ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Dimensi ke 4 ini, banyak diabaikan orang, menjadi dimensi yang hilang. Sebab itu, banyak orang tidak bahagia. Hidup tidak seimbang, timpang, berat sebelah, hampa, gersang dan kosong. Akar ketidak-bahagiaan, manusia mengabaikan kebutuhan rohani, hubungan yang baik dengan Tuhan. Firman-Nya didengar, tetapi tidak ditaati. Menemukan dimensi ini kembali, berarti menemukan Tuhan, sumber anugerah kebahagiaannya. Spiritual, sisi sentral agar hidup bahagia.

III. Bapa yang hilang

  1. Keadilan terbalik. “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak , tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya, dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik,” itulah kegalauan Nabi Habakuk.
  2. Bapa yang hilang. Aduh ….keadilan muncul terbalik !!! Orang benar terkepung. Hukum hilang kekuatannya. Penindasan, kelaliman, kekerasan, kejahatan, pertikaian !! Menyedihkan dan mengerikan, ketika dosa menyeruak dominan dalam masyarakat. Bila, orang tua atau bapak-bapak, berbalik dari Tuhan, meninggalkan Tuhan, hidup tanpa Tuhan, mengikuti dorongan kedagingannya. Maka, sebagai tokoh dan pemimpin dalam keluarga, perilaku-perilaku di atas dapat berdampak di dalam rumah tangganya. Hidup tercabut dari akar spiritualitasnya. Kehilangan dimensi rohaniahnya. Padam nyala imannya. Pudar getaran kuasa kasihnya. Hambar pengaruh kegaramannya. Hati, hidup, dan keluarga bahagia, tak tergapai olehnya. Bapa yang hilang, kehilangan damai sejahtera-Nya, sejati paripurna. Kehilangan dimensi spiritual, berarti kehilangan Tuhan, kehilangan hati bahagia, kehilangan dirinya dan hidupnya.
  3. Wahai…wahai…. “Wahai…wahai… karena kami telah berbuat dosa ! Karena inilah hati kami sakit. Segala pelanggaran adalah kuk yang berat, ditaruh di atas tengkukku.” Beban menghimpit batin. Menekan tengkuk. Menggelisahkan sanubari. Merampas sukacita. Menukar bahagia dengan kepahitan dan kegetiran. Keluarga dan dunia, bukan lagi tempat yang indah dan teduh. Di sana, banyak derai air mata. Hilang hati dan hidup bahagianya.

IV. Kristus, mencari yang hilang

  1. Bekerja jujur. Zakheus, seorang yang kaya. Apakah salah kalau ia kaya ? “Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan,” kata Bijak. Kalau miskin, mencuri. Kaya, sombong dan tinggi hati. “Sebab, apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau, dan baik keadaanmu.” Karena itu, jauhkan aku dari pada kecurangan dan kebohongan.
  2. Kehilangan bahagia. Miskin dan kaya, berpotensi menjadi anak hilang, juga bapak yang hilang. Kemiskinannya, mendorong melakukan perbuatan mencemarkan nama Allah. Kekayaannya, menyebabkan menyangkal Allah, melalui perilaku curang, bohong, tidak jujur, dan koruptif. Akar kejahatan adalah cinta uang. Yang dipakai dan dimakannya, diperoleh oleh tangan yang cemar dan kotor. Sehingga, rumah dan segala isinya, serta orang-orang di dalamnya kehilangan hati dan hidup bahagia.
  3. Yang hilang dicari. Lawatan Kristus, dan perjumpaan dengan Zakheus, mengubah hidup Zakheus. Terjadi pertobatan, transformasi dan reformasi hidup. Sebab, yang berjumpa dan ada dalam Kristus, adalah ciptaan baru. Hidup baru dimulai. Perilaku egosentris, menjadi hidup berbagi dan memberi. Tangan merengkuh, menjadi tangan terulur. Hasil memeras, dikembalikan. Jalan lama ditinggalkan, jalan baru dimulai. Kristus datang, mencari dan menyelamatkan yang hilang. Sehingga, dalam rumah ini, ada keselamatan dan kebahagiaan. Damai sejahtera-Nya, sejati paripurna, mengalir dari sorga, tidak seperti yang diberikan dunia. Ini, yang dicari dan dibutuhkan oleh setiap insan milik-Nya.
  4. Bapa transformatif dan reformatif. Kristus yang melawat, mencari, menjumpai, disambut, diterima dan mengalami kuasa kasih-Nya. Perjumpaan itu menyebabkan pertobatan, transformasi dan reformasi diri. Ditanggalkan dan ditinggalkan pola hidup lama. Dibuang dan disingkirkan cara perilaku jahat dan tidak benar. 6-A: Harta, benda, takhta, kuasa, cinta, wanita, yang dapat menjatuhkannya, disikapi bijak. Beranjak, berbalik, kembali, mencari Tuhan. Percaya, buka hati dan terima Tuhan. “Aku hidup, namun bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam aku.”
  5. Tangan berbagi memberi. Iman dan firman, menjadi motor, motif, motivasi, penggerak dan pendorong perilaku kasih pada sesama. Segala yang ditemui tanggannya, dikerjakan sekuat tenaga. Segala apapun yang diperbuat, diperbuat dengan segenap hati, seperti untuk Tuhan. Ketika hasil kerja dan hidup demikian, diberkati, sukses dan berhasil. Kaya beruang, kaya berharta. Tanda syukur pada Tuhan, tangannya berbagi memberi pada sesamanya. Diberkati dan menjadi berkat, menjadi gaya hidup “Bapa transformatif dan reformatif.”

SELAMAT HARI REFORMASI DAN BAPA GKE 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published.