Refleksi 190 Tahun Pekabaran Injil GKE (Menjaga Warisan Iman melalui Pengucapan Syukur)

Oleh: Pdt. Dr. Sudianto, M.Si
Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) demikian pula STT GKE ada sampai hari ini, tentu karena pemeliharaan Tuhan Yesus Sang kepala Gereja dan setiap orang yang dipilih dan dipakainya untuk melayani dengan sepenuh hati. Mengingat kembali awal adanya GKE, tentu karena kerinduan orang-orang Kristen di Jerman untuk memberitakan Injil bagi orang Dayak. Rheinischen Mission pada tanggal 4 Juni 1834 memutuskan Pulau Kalimantan sebagai daerah pekabaran Injil yang baru . Dengan demikian maka GKE ada karena ada Pekabaran Injil. Injil berasal dari bahasa Yunani Euangelion artinya Kabar Baik.
Paulus mengatakan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab didalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis, orang benar hidup oleh iman (Roma 1:16-17) Injil dikabarkan karena adanya keyakinan kepada Injil dan kerinduan untuk melakukan pekabaran bagi sesama (Orang Dayak). Dikenal pada masa itu sebagai Abad Pekabaran Injil. Pengalaman para Missionaris menghadapi berbagai tantangan dalam memberitakan Injil, meninggalkan Eropa dengan segala kenyamanannya, Tujuan penginjilan masih dikelilingi hutan belantara, transportasi yang terbatas, Sebagai orang asing, Pemerintahan yang tidak ramah, sakit penyakit, komunikasi yang terbatas, bahkan akhirnya ada yang menjadi martir.
Saat ini tentu zaman telah berubah, Benua Eropa asal Injil diberitakan asal usul GKE, justru mengalami penurunan orang-orang Kristen ke Gereja. Apakah ini pertanda Injil semakin diabaikan? GKE telah mencanangkan mewujudkan Gereja yang missioner. Berharap suatu saat akan terwujud. Zaman memang terus berubah, namun pemberitaan Injil tidak boleh berubah, seperti yang dikatakan oleh Paulus: baik atau tidak baik waktunya Injil harus tetap diberitakan ( 2 Timotius 4:2)
Apa yang dapat direfleksikan? Pertama tentang, kerinduan untuk memberitakan Injil, masih kah menyala-nyala seperti RMG, ataukah justru suam-suam kuku. Kedua, Pemberitaan Injil dilakukan dengan berbagai strategi, tidak tunggal sesuai dengan kontek masing-masing. Ketiga, Tantangan terus mengintai, bahkan nyawa menjadi taruhan untuk Injil, GKE lahir dari darah para martir Hoefmister, dkk. Keempat, Injil diberitakan baik atau tidak baik waktunya. Tidak tergantung dengan keadaan, Injil terus diberitakan dalam situasi apapun, baik atau tidak baik waktunya. Selamat merayakan Hari Pengucapan Syukur dan 190 tahun Pekabaran Injil GKE, 15 Juni 2025.
Sumber Referensi:
Ukur, Fridolin. Tuainnya Sungguh Banyak: Sejarah Gereja Kalimantan Evangelis sejak tahun 1835. Jakarta: BPK Gunung Mulia (cetakan ke 4), 2021.
