Cinta yang Tampil Sederhana
Oleh: Gledys Sendora (Mahasiswa STT GKE)
Cinta kerap kali hadir ke dalam hidup manusia melalui hal-hal yang nampaknya sederhana. Ketika tubuh terkulai lemah setelah hari yang begitu panjang dan melelahkan, ada dorongan internal untuk rehat sejenak dan mengambil hela nafas panjang. Merawat diri setelahnya dengan membersihkan diri dan membuat makanan yang digemari, atau dengan melangsungkan hobi untuk melepas penat dari beban pikiran juga merupakan sebuah bentuk cinta terhadap diri sendiri. Afirmasi-afirmasi atau penguatan-penguatan positif terhadap diri sendiri pun perlu sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian-pencapaian yang telah diraih, sekecil apapun itu. Ada kepercayaan diri bahwa apa yang diusahakan adalah yang terbaik tanpa menutup kemungkinan untuk introspeksi diri, sehingga tidak perlu untuk menjadi keras atas diri sendiri.
Seringkali seseorang mengaku telah mencintai sesamanya, mungkin pasangan atau sahabat karibnya. Namun, bagaimana mungkin ia sesungguhnya merasakan hal yang demikian apabila ia sendiri belum bisa mencintai dan mengapresiasi dirinya sendiri? Di dalam konteks teologi Kristen, Allah digambarkan sebagai Sang Maha Pengasih yang telah mengaruniakan Yesus Kristus, anak-Nya yang tunggal, kepada umat manusia supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya mendapat kehidupan kekal (Yoh 3:16). Umat Kristen dituntut untuk hidup menurut teladan-Nya yang nyata di dalam Yesus Kristus dan salah satunya ialah cinta kasih-Nya kepada manusia, makhluk yang berdosa. Burung pipit di udara tidak berperkara dengan apa yang mereka akan makan esok hari dan bunga bakung tidak berperkara dengan pakaian apa yang mereka akan kenakan esok hari, lantas seberapa berharganya manusia di hadapan Allah (Mat 5:26-30), sehingga Ia sendiri turun ke dalam dunia untuk menebus dosa manusia?Apabila Allah sendiri menilai manusia sangat berharga di matanya, lalu mengapa terkadang manusia justru tidak bisa melihat betapa berharga dirinya?
Cinta pun tidak selamanya dialamatkan hanya kepada sesama manusia, melainkan juga kepada sesama ciptaan Allah yang mencakup lingkungan hidup dan segala jenis flora serta fauna di dalamnya. Mencintai alam secara penuh bisa dimulai dengan berhenti membuang sampah sembarangan atau dengan memberikan sisa-sisa makanan kepada hewan yang hidup terlantar di jalanan. Dengan melakukan hal yang demikian, manusia secara tidak langsung juga mencintai Sang Pencipta Kehidupan yang menjadikan segala sesuatu, termasuk alam yang asri dan permai. Tidak lupa bahwa cinta sendiri merupakan pemberian berharga dari Allah.
Tidak jarang jika beberapa orang beranggapan bahwa mereka telah mencintai Allah dengan sekadar berdoa dan pergi ke gereja di setiap hari Minggu atau hari-hari besar lainnya. Namun, apakah mereka telah mencintai perintah-perintah dan ketetapan-ketetapan-Nya lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua seperti apa yang dicatat pada Mazmur 119:127? Mencintai Allah sama dengan hidup menurut apa yang dikehendaki-Nya, tentang bagaimana manusia menjalani relasi dengan dirinya sendiri dan sesama ciptaan. Apabila manusia teledor dalam menjaga dan melestarikan ciptaan Tuhan yang dianggap hina dan kecil, apakah pantas bagi mereka untuk mengatakan bahwa mereka telah mencintai Allah, Sang Pencipta dan Pencinta Kehidupan? Cinta dimulai dari hal-hal yang sederhana dan kecil, namun berdampak positif bagi tiap-tiap ciptaan yang menerimanya. Cinta pada akhirnya bisa dipergunakan menjadi saluran berkat bagi siapapun.
Dalam rangka merayakan hari kasih sayang yang diadakan pada setiap tanggal 14 Februari, sudahkah anda mencintai diri sendiri, sesama ciptaan, dan Allah?

