ArtikelBerita InternasionalBerita NasionalHeadlineKanan-Slider

Menghargai Peran Ibu dalam Membangun Karakter Anak

Oleh: Pdt. Dr. Retni Mulyani, M.Si

Momen hari ibu merupakan momen berharga bagi setiap anggota keluarga memberikan apresiasi kasih sayang untuk ibu yang sepanjang hidupnya sangat berperan penting.  Apresiasi dalam momen hari ibu dapat disampaikan melalui ucapan selamat dengan pemberian bunga atau coklat. Apresiasi kasih sayang semacam ini sangat romantis sekali. Apresiasi  lain yang dilakukan oleh anak-anak bisa juga bangun pagi-pagi dan melakukan pekerjaan rumah untuk memberikan kejutan bagi ibu. Ini so sweet sekali. Apresiasi hari ibu ini pun diungkapkan dengan beragam cara untuk membahagiakan seorang ibu.

Momen hari ibu yang ditetapkan setiap tanggal 22 Desember bukan untuk mengapresiasi peran ibu pada wilayah domestik. Agenda utama dalam Kongres Perempuan I tahun 1928 adalah emansipasi perempuan, persatuan organisasi, pendidikan, hak perkawinan, dan peran perempuan dalam perjuangan nasional. Beberapa agenda ini dibahas karena kondisi para perempuan saat itu sudah menjadi ibu dalam usia dini mengalami kondisi diskriminasi dalam mendapatkan akses pendidikan, perkawinan dini di bawah usia 12 tahun, poligami dari pihak laki-laki, dan dominasi suami dalam rumah tangga sehingga memenjarakan perempuan dalam wilayah domestik. Bagaimana dengan kondisi ibu pada masa kini? Apakah makna hari ibu yang diperingati setiap 22 Desember masih sama seperti agenda pada masa Kongres Perempuan pada tahun 1928?

Keadaan perempuan dan ibu di Indonesia saat ini mengalami kemajuan besar, dibandingkan dengan era 1928. Akses pendidikan semakin mudah, hampir semua anak perempuan dapat masuk sekolah dasar bahkan sampai mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Undang – undang Perkawinan 1974 membantu menunda usia pernikahan. Meskipun demikian, masalah baru muncul, seperti kurangnya perhatian terhadap kesehatan mental, kekerasan dalam rumah tangga yang semakin meningkat, beban ganda sebagai pencari nafkah dan pengasuh. Ibu seakan menanggung beban kehidupan seorang diri dan tidak diberikan kesempatan untuk mengafirmasi kelelahan emosional dan fisik. Situasi yang dialami ibu dinormalisasikan bahwa menjadi ibu yang harus menanggung semua. Pada akhirnya, normalisasi beban ini memperkuat ketidakadilan struktural terhadap perempuan dan menghalangi ibu untuk melakukan tugas pengasuhan terbaik mereka, termasuk membentuk karakter anak. Menghargai ibu bukan hanya dengan memberinya bingkisan dan kata-kata manis; itu juga harus memberinya waktu untuk bersantai, pulih secara emosional, dan membangun hubungan keluarga yang kuat. Ibu perlu mendapatkan tempat yang aman di mana ia dapat mengungkapkan kekecewaan, kelelahan, dan pergumulannya tanpa distigmatisasi atau dipaksa untuk tampak kuat. Langkah-langkah penting untuk meningkatkan kesehatan ibu termasuk pembagian peran domestik yang adil, akses ke layanan kesehatan mental, perlindungan dari kekerasan dalam rumah tangga, dan kebijakan publik yang ramah keluarga.

Ibu memegang peran penting dalam keluarga. Kehadirannya tidak hanya berkaitan dengan urusan sehari-hari, seperti mengatur jadwal makan, tetapi juga berkaitan dengan pemikiran tentang moralitas dan etika yang harus ditanamkan pada anak-anak. Meskipun prosesnya sulit, ibu membantu anak mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi mereka. Sebelum anak akhirnya dapat mengendalikan dirinya sendiri, ia harus menghadapi tantrum dan ketidakstabilan emosionalnya. Ibu berjuang untuk membesarkan dan mendampingi anak-anaknya dengan kasih, meskipun sering kali anak-anaknya belum memahami jenis cinta itu.

Tidak hanya tutur kata yang manis, peran ibu juga diwujudkan melalui disiplin dan ketegasan. Ketika ibu membatasi atau melarang anaknya, tujuannya bukan untuk mengekang mereka, tetapi untuk mendorong mereka untuk memilih jalan yang baik dan bertanggung jawab. Ibu dan anak kadang-kadang berselisih, tetapi akhirnya mereka mencapai kesepakatan yang adil melalui diskusi dan bantuan.

Demikianlah gambaran seorang ibu dalam keluarga yang terus berusaha menjalankan peran sebagai seorang perempuan dengan cara terbaik dengan segala keterbatasan dan dinamikanya. Karena anak-anak memiliki rasa ingin tahu dan keinginan untuk mengeksplorasi dunia, keputusan dan aturan ibu mungkin tampak tidak menyenangkan bagi mereka. Di balik batasan-batasan itu, bagaimanapun, ada keinginan tulus untuk menjaga, menuntun, dan memastikan bahwa anak-anak tumbuh menjadi individu yang matang, penuh empati, dan memiliki jalan hidup yang jelas. Karena itu, mengakui peran ibu dalam membangun karakter anak tidak cukup dengan mengucapkan terima kasih atau memberikan hadiah pada saat perayaan. Keluarga dan masyarakat harus berkomitmen untuk membantu ibu tetap sehat, aman, dan memiliki kesempatan untuk berkembang sebagai individu. Kualitas pengasuhan meningkat ketika ibu dihargai secara utuh, dan anak-anak memperoleh teladan yang baik untuk membangun karakter mereka. Pada akhirnya, karakter keluarga menentukan masa depan negara, dan kekuatan seorang ibu yang dihormati, dilindungi, dan diberdayakan. Anda dapat mengucapkan selamat kepada ibu setiap hari, bukan hanya pada Hari Ibu.

Referensi

Lestari, Linda. “Sejarah Penetapan 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional” dalam Tempo, 22 Desember 2024,https://www.tempo.co/politik/sejarah-penetapan-22-desember-sebagai-hari-ibu-nasional-1184561#google_vignette

Mrs, “Kenapa Hari Ibu di Indonesia Diperingati Tanggal 22 Desember?” dalam CNN Indonesia, 22 Desember 2024, https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20241212134715-561-1176599/kenapa-hari-ibu-di-indonesia-diperingati-tanggal-22-desember.

Nabila, Mutiara. “Hari Perempuan Internasional 2025: Masih Banyak Tantangan yang Dihadapi Wanita di Indonesia” dalam style bisnis,  12 Maret 2025. https://lifestyle.bisnis.com/read/20250312/254/1860668/hari-perempuan-internasional-2025-masih-banyak-tantangan-yang-dihadapi-wanita-di-indonesia.

Sandra, “Kongres Perempuan 1928: Awal Pergerakan Perempuan Indonesia” dalam Republic Of Indonesia, Jakarta 24 Maret 2025, https://inca.ac.id/kongres-perempuan/

Paramayana, Asep Nanda. “Catatan Kecil Sejarah Gerakan Perempuan Indonesia” dalam Satunama dalam Menanam Benih Keadilan, 21 Maret 2017, https://satunama.org/3877/catatan-kecil-sejarah-gerakan-perempuan-indonesia/

Bagikan tulisan ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Agenda Mendatang