ArtikelBerita InternasionalBerita NasionalHeadlineKanan-Slider

Natal dan Keluarga: Merayakan Kasih di Tengah Keluarga

Oleh: Pdt. Dr. Tahan MC

Natal secara etimologis disebut juga Christmas dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Belanda disebut Kerst-misse. Dalam bahasa Perancis disebut Noël dan bahasa Italia disebut Il natale yang artinya kelahiran.[1] Masih banyak lagi penyebutan Natal yang berbeda-beda di setiap tradisi budaya dan bahasa. Namun maknanya sama yakni merayakan kelahiran Yesus Kristus. Tulisan ini mencoba melihat kembali bagaimana keluarga bisa menjadi pusat untuk merayakan kasih melalui Natal.

Tema perenungan masa Raya Natal yang disampaikan oleh PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia tahun 2025 adalah “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”. Tema ini diambil dari Matius 1:21-24. PGI meyakini bahwa keluarga pada masa kini mengalami berbagai tantangan yang tidak mudah. Ada masalah ekonomi, judi online, pinjaman online, narkoba, individualisme dan materialisme. PGI menganjurkan agar keluarga suami istri dan anggota lainnya berperan untuk kembali menjadi Gereja terkecil, tempat kasih Kristus pertama-tama dihidupi.[2] Pesan tersebut sangat menggugah dan membuat gereja-gereja bergegas untuk memaknai Pesan Natal tahun 2025 dengan berbagai perayaan.

Namun, jika dilihat kembali secara detail, pesan ini masih berkutat pada wacana tentang keluarga. Kenyataannya, banyak keluarga justru “terpisah” ketika Natal dirayakan. Banyaknya perayaan Natal bahkan sampai ke tigkat kategorial menunjukkan bahwa Natal mulai memisahkan antar keluarga. Ada yang sibuk dengan Natal Bapak-bapak sehingga anak istri ditinggalkan. Sebaliknya Natal ibu-ibu juga dirasakan penting. Keadilan jender harus ditegakkan. Belum lagi muncul Natal anak-anak yang juga menyita banyak waktu bagi keluarga untuk bersatu. Tidak cukupkan Natal hanya satu kali? Natal yang menyatukan keluarga? Ya pasti banyak argumen itu kan sudah program sejak bertahun-tahun lalu! Tidak pernah terjadi masalah!

Penulis hanya mengingatkan, bukankah peristiwa kelahiran Yesus menunjukkan menyatunya keluarga Yusuf dan Maria. Mereka tidak sibuk berpencar untuk mencari dan memperkuat jati diri. Mereka menyatu di dalam keluarga inti. Natal yang dirayakan Yusuf dan Maria menyatakan bahwa keluarga-keluarga seharusnya beribadah bersama. Suami, istri, anak dan anggota keluarga lainnya. Sadarkah gereja akan hal ini? Ada banyak gereja justru akhirnya memisahkan keluarga yang seharusnya bersatu dalam Natal, seperti Natal keluarga Yusuf dan Maria. Mereka justru saling menguatkan dan saling menjaga dalam peristiwa kelahiran. Keluarga Yusuf dan Maria memberikan contoh nyata bahwa Natal itu menyatukan keluarga. Memperjuangkan bersama-sama dan bukan terpisah. Mari berefleksi sejenak? Berapa lama kegiatan masa raya Natal menyita waktu Anda yag seharusnya disediakan buat keluarga? Seharusnya Sang ayah bersama anak-anaknya, seorang ibu bersama suami dan anak-anaknya! Namun, seringkali perayaan Natal memisahkan mereka. Ada sibuk paduan suara. Satunya lagi sibuk sebagai seksi konsumsi. Dalam gereja ramai, tetapi di dalam rumah kering kerontang, jika mau menyelamatkan keluarga, mulailah dari keluarga masing-masing. Shalom. Selamat menyambut Natal dan Tahun baru!


[1] Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pastoral Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 126.

[2] PGI.OR.ID, “PESAN NATAL PGI DAN KWI 2025,” PGI.OR.ID, diakses 18 Desember 2025, https://pgi.or.id/news/warta-pgi/pesan-natal-pgi-dan-kwi-2025-223.

Bagikan tulisan ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Agenda Mendatang