ArtikelBerita InternasionalBerita NasionalHeadlineKanan-Slider

Allah yang Turut “Rapuh”

Oleh: Pdt. Gabriella T. Yohanessa, M.Th

Saat ini, Indonesia bahkan dunia ada dalam situasi yang rapuh dan kacau. Segalanya jauh dari kata “baik-baik saja.” Ada perang yang bergejolak, ancaman kelaparan, kemiskinan yang menggelisahkan, dan rupa kekacauan lainnya. Ragam kondisi ini membuat kita acap berpura-pura utuh dan kuat, tetapi jauh di dalam sana, kita gelisah bergumul dalam kekhawatiran dan kebimbangan. Seperti dunia yang ditutupi abu kemelut ketidakpastian, hati kita juga demikian.

Dalam kerapuhan tersebut, kita menanti agar Tuhan bekerja dengan “gagah berani” untuk menghentikan desingan peluru perang, memulihkan ekonomi, mencukupkan mereka yang kelaparan dan menuntaskan segala jenis penderitaan. Kita mengharapkan Tuhan yang “kuat” dan “menang” atas berbagai masalah. Namun, dua ribu tahun lalu, Jumat Agung menghadirkan realitas yang menyakitkan: Sang Tuhan dipaku di kayu salib. Kepala-Nya terkulai. Ia terlihat lelah sekaligus rapuh dengan banyak luka mengerikan. Bagi pembenci-Nya, Ia dinyatakan “kalah telak” dan mati dalam kondisi memalukan.

Menjelang putusnya napas yang kian sulit dihirup, dengan tenaga yang tersisa, Yesus mengucap tetelestai (Yoh. 19:30). Dalam Bahasa Yunani Kuno, kata ini berakar dari kata teleo yang bermakna: menyelesaikan, melengkapi, mengakhiri. Saat mengucapkan kata itu, Yesus menegaskan bahwa Ia sudah menuntaskan misi dengan baik di dunia, sekaligus merupakan deklarasi kemenangan-Nya atas kuasa dosa dan maut yang menjerat manusia.[1] Jika demikian, maka salib menandakan bahwa Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang akrab dengan rupa penderitaan. Ia bukan pribadi yang menatap penderitaan dari jauh tanpa mau mendekat, melainkan berkenan berpartisipasi dalam luka dan duka untuk turut menderita. Kematian Yesus menyuarakan pesan bahwa manusia teramat jauh dari kata berdaya untuk menyelamatkan diri sendiri. Kematian-Nya sekaligus mengajak kita supaya berani mengakui kerapuhan dan menerima keterbatasan, karena justru dengan kelemahan itu, kuasa Tuhan mendapat ruang untuk bekerja (2 Kor. 12:9).

Seperti Tuhan yang berani menapaki kerapuhan hidup, Jumat Agung adalah ajakan agar kita tidak takut mengakui kerapuhan di hadapan Tuhan, dan tidak memaksakan diri untuk selalu tampak kuat. Dunia selalu dipenuhi dengan berbagai permasalahan yang datang silih berganti tanpa henti, tetapi Yesus sudah menyatakan tetelestai yang menandakan Dia tidak pernah berkarya dengan setengah hati. Karya-Nya selesai dengan baik di dunia. Ini berarti kekacauan dunia bukan akhir dari hidup, karena hal itu tidak berkuasa membatalkan karya keselamatan-Nya yang mulia. Mari mengingat dan merayakan Jumat Agung bukan sekadar sebagai peristiwa kematian-Nya, tetapi juga sebagai sebuah harapan yang muncul di tengah ketidakpastian.


[1] Helenda Yulianti Hotang, Marudut Sihotang, and Antoni Manurung, “Tetelestai: Studi Kata Tetelestai Dalam Injil Yohanes 19:28-30 Dan Relevansinya Bagi Gereja Masa Kini,” Jurnal Teologi Anugerah XII, no. 1 (2023): 34-35.

Bagikan tulisan ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Agenda Mendatang