#KAtaaluMnISTTGKE: Bertumbuh dalam Diam

Betsi Yulanda Silva, S.Th adalah seorang alumni STT GKE yang berasal dari Desa Talio, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Betsi terdaftar sebagai mahasiswa STT GKE pada tahun 2021 dan lulus pada tahun 2025. Pada saat ini, Betsi melayani sebagai TKS di salah satu resort GKE di wilayah Kalimantan Tengah.
Selama menempuh pendidikan di STT GKE, Betsi aktif terlibat dalam berbagai kegiatan. Betsi pernah terlibat dalam kepanitiaan kegiatan kampus, seperti Panitia Retreat STT GKE, Panitia Dies Natalis dan Wisuda STT GKE, Panitia Perayaan Paskah, serta Panitia Perayaan Menyambut Natal STT GKE. Sementara itu, dalam Senat Mahasiswa, Betsi terlibat dalam dua periode dengan jabatan berbeda, yakni sebagai anggota bidang Diakonia dan periode selanjutnya sebagai Koordinator bidang Komunitas Persekutuan Doa (KPD). Pada tahun 2023, Betsi juga dipercaya menjadi mentor asrama putri STT GKE. Walaupun memiliki kegiatan yang cukup padat, ia tetap menjalani perkuliahannya dengan baik. Hal ini terbukti dengan pencapaiannya meraih peringkat 2 di angkatannya pada semester IV Tahun Akademik 2022/2023 serta lulus tepat waktu.

Keterlibatan Betsi dalam berbagai kegiatan organisasi di STT GKE bukan tanpa alasan. Ia melihat bahwa melalui berbagai kegiatan tersebut, ia memperoleh banyak pengalaman yang membentuknya secara spiritual, personal, dan sosial. Hal ini ia tuturkan sebagai berikut:
“Dalam kehidupan rohani, saya belajar untuk menumbuhkan disiplin spiritual melalui doa, persekutuan, dan pelayanan bersama. Keterlibatan dalam Komunitas Persekutuan Doa (KPD) dan berbagai kegiatan rohani kampus menolong saya untuk semakin peka terhadap karya Tuhan dalam kehidupan sehari-hari serta memahami bahwa pelayanan bukan sekadar tugas, melainkan panggilan iman. Melalui pengalaman berorganisasi dan kepanitiaan, saya belajar arti kerja sama dan hidup dalam komunitas. Saya menyadari bahwa setiap kegiatan hanya dapat berjalan dengan baik ketika ada saling pengertian, komunikasi yang terbuka, dan kesediaan untuk saling melengkapi. Perbedaan karakter, pendapat, dan latar belakang justru menjadi ruang pembelajaran untuk bertumbuh dalam sikap saling menghargai dan membangun kebersamaan. Dalam hal kepemimpinan, berbagai tanggung jawab yang saya terima, baik sebagai koordinator bidang, ketua KPD, maupun mentor asrama putri, mengajarkan saya untuk memimpin dengan rendah hati, melayani, dan bertanggung jawab. Saya belajar bahwa seorang pemimpin bukan hanya mengarahkan, tetapi juga mau mendengar, memberi teladan, dan hadir bagi orang-orang yang dipimpin. Pengalaman ini juga melatih saya dalam pengambilan keputusan, manajemen waktu, serta penyelesaian masalah dengan bijaksana. Selain itu, keterlibatan dalam berbagai kegiatan kampus melatih saya untuk lebih mandiri, disiplin, dan siap menghadapi tantangan. Saya belajar mengelola emosi, tekanan, dan tanggung jawab dengan sikap yang dewasa. Seluruh proses ini membentuk karakter saya menjadi pribadi yang lebih sabar, peduli, dan siap melayani dengan sepenuh hati.”
Dengan demikian, Betsi melihat bahwa keseluruhan pengalaman selama berada di STT GKE bukan hanya memperkaya pengetahuan teologinya saja, tetapi juga membentuk iman, karakter, dan kepribadian yang unggul. Hal ini menjadi bekal penting baginya sebagai alumni STT GKE untuk melangkah dalam kehidupan pelayanan dengan iman dan kesetiaan.

Perkuliahan di STT GKE memberikan dampak yang berarti bagi Betsi. Ketika menjalani kehidupan berasrama pada tahun pertama sebagai mahasiswa, ia belajar untuk peduli dengan orang-orang di sekelilingnya. Melalui berbagai kegiatan kampus serta praktik yang dilakukan di jemaat, Betsi belajar berkomunikasi dengan baik, menyampaikan pendapat, dan bergaul dengan berbagai kalangan.
Penghayatan akan makna panggilan menjadi pelayan Tuhan semakin kuat ketika Betsi menjalani Praktik Pelayanan Gerejawi (PPG). Melalui PPG, Betsi memperoleh banyak pembelajaran berharga. Ia mengungkapkan:
“Pengalaman terjun langsung ke jemaat dan masyarakat melalui praktik pelayanan lapangan membuat saya lebih memahami pergumulan umat dan menyadari pentingnya menghadirkan kasih Tuhan secara nyata. Hal ini memperdalam relasi saya dengan Tuhan serta memperkuat panggilan untuk melayani. Melalui pengalaman praktik di lapangan (PPG), saya memperoleh banyak pembelajaran berharga yang menjadi motivasi untuk terus melanjutkan pelayanan. Saya belajar mengaplikasikan teori yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam konteks nyata pelayanan, menghadapi tantangan, dan mencari solusi dengan sikap yang bijaksana dan rendah hati. Pengalaman ini membentuk kesiapan mental, spiritual, dan keterampilan pelayanan saya.”
Menurut Betsi, memiliki kesempatan berkuliah di STT GKE merupakan sebuah keistimewaan. Hal ini karena ia menilai bahwa di STT GKE ada kombinasi yang unik, antara pembelajaran akademik, pembinaan iman, dan pengalaman pelayanan yang nyata. Kampus ini bukan sekadar tempat menempuh pendidikan teologi, melainkan ruang pembentukan yang utuh bagi setiap mahasiswanya. Diakuinya, STT GKE memberikan ruang untuk bertumbuh secara pengetahuan, kerohanian, dan karakter. Secara pribadi, Betsi melihat STT GKE sebagai ruang aman untuk bertumbuh tanpa harus selalu menonjol. Melalui perkuliahan, komunitas, dan pelayanan, ia belajar dan dibentuk secara konsisten dalam ketenangan, refleksi, dan kesetiaan pada proses. Oleh karena itulah, Betsi menggambarkan STT GKE sebagai “Bertumbuh dalam Diam”.
Betsi berharap STT GKE dapat terus mempertahankan bahkan mengembangkan perannya sebagai komunitas akademik yang mendorong mahasiswa tidak hanya memahami teologi secara konseptual, tetapi juga menghidupinya dalam praktik pelayanan nyata di gereja dan masyarakat. Pengembangan fasilitas dan program yang memberi ruang bagi kreativitas, kolaborasi, dan pengalaman lapangan dinilai penting agar mahasiswa dapat menemukan panggilan dan potensi dirinya secara maksimal. Suasana hangat, inklusif, dan saling mendukung merupakan iklim kampus yang perlu terus dipertahankan. “Semoga STT GKE tetap menjadi rumah bagi mahasiswa untuk belajar, melayani, dan dibentuk menjadi pribadi yang siap mengabdi bagi Tuhan dan sesama,” tutup Betsi.


