ArtikelHeadlineKanan-Slider

Anak Muda Membangun Relasi Melalui Komunikasi yang Sehat

Oleh: Ari Juatnu

Setiap hari, manusia akan selalu berjumpa dengan orang lain. Perjumpaan tersebut, dapat terjadi di dunia nyata, maupun dunia maya. Kemudian, dalam perjumpaan tersebut, beragam hal dapat dijumpai. Terkhusus di dalam komunikasi, ada yang menyenangkan, ada juga yang membuat kening berkerut, mata menajam, hati memanas, dan darah mendidih. This is reality.

Peristiwa demikian, juga terjadi dalam kehidupan anak muda. Pada tulisan ini, kita menggunakan istilah Gen Z. Dalam buku Anitalia Stefany Welayana, Generasi Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997–2012. Generasi ini lahir di tengah keadaan teknologi digital yang berkembang pesat.[1] Ini adalah ciri khas Gen Z. Meskipun dekat dengan teknologi digital, berkomunikasi tatap muka secara langsung juga merupakan bagian yang sangat penting. Komunikasi ini berlangsung dengan saling menghargai. Akhirnya, mencapai makna pesan, diterima, dan menghindari kesalahpahaman.[2] Artinya, berkomunikasi secara nyata maupun maya, adalah bagian dari kehidupan mereka.

Berbicara mengenai komunikasi Gen Z, pertanyaannya adalah bagaimana agar Gen Z membangun relasi dengan siapa pun, dalam dunia nyata maupun dunia maya, dalam komunikasi yang sehat? Karena bisa saja, kemampuan komunikasi sangat baik, relasi dimiliki, namun konten yang dikomunikasikan sifatnya menjatuhkan, merendahkan, menghina, memfitnah, menghancurkan, bahkan menghujat Tuhan. Ini menjadi refleksi bagi anak muda !

Selanjutnya, kita berbicara mengenai relasi. What is meant by relation? Relasi adalah perjumpaan manusia sebagai makhluk sosial, yang akan terus menjalin interaksi satu sama lain. Dalam proses interaksi, mereka saling menyampaikan pesan atau pemberitahuan dalam perjumpaan tersebut. Proses ini disebut relasi. Relasi seyogianya melahirkan keuntungan di antara kedua belah pihak. Hubungan timbal balik yang sehat adalah proses positif dalam membangun relasi.[3] Secara sederhana, relasi berbicara mengenai interaksi, yakni komunikasi di antara manusia untuk saling menyampaikan pesan dan melahirkan hubungan timbal balik yang positif. Dari pernyataan ini, kita menemukan gambaran awal prinsip membangun relasi dan komunikasi yang sehat bagi Gen Z.

Selanjutnya, Relasi juga memiliki beragam manfaat, di antaranya adalah mempercepat pencapaian tujuan hidup, memperluas jaringan bantuan, meningkatkan kualitas pekerjaan, mempererat hubungan pertemanan, serta memahami berbagai perbedaan kepribadian, kemudian etiket terhadapnya.[4] Sebagai pengalaman pribadi penulis, ketika membangun relasi dengan siapa pun, segudang manfaat diperoleh. Manfaat tersebut berupa kepercayaan, berkat secara jasmani dan rohani, pelibatan, serta keuntungan bagi banyak pihak. Menurut penulis, hidup yang memiliki relasi, adalah hidup yang efektif dan bermanfaat.

Sekarang, kita telah menemukan berbagai manfaat dari sebuah relasi. Bagaimana kabarnya dengan komunikasi? Apakah juga bermanfaat? Komunikasi adalah proses pertukaran ide, pesan, dan interaksi antara satu sama lain. Komunikasi adalah perjumpaan antara komunikator dengan komunikan dalam menyampaikan pesan dan memengaruhi, yang dilakukan dengan sengaja dan mencapai suatu tujuan. Selanjutnya, komunikasi ialah kegiatan yang meliputi subjek pesan, pesan, dan objek pesan.[5] Secara sederhana, komunikasi adalah proses bertukar informasi, memahaminya, serta mencapai tujuan yang diinginkan. Wah, komunikasi sangat bermanfaat bagi siapa pun yang memanfaatkannya.

Alkitab juga mengambil bagian dalam proses komunikasi. Paulus menyampaikan pesan bagi jemaat Efesus, yakni “Janganlah ada perkataan yang kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29). Penulis Amsal juga mengajarkan bahwa “Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya, memelihara dirinya daripada kesukaran” (Amsal 21:23). Alkitab dengan jelas menuntun Gen Z agar berkomunikasi dengan benar. Sebab, komunikasi sangat berdampak bagi diri sendiri, orang lain, dan hubungan dengan Tuhan.

Oleh karena itu, bagaimana  anak muda atau Gen Z membangun relasi dalam komunikasi yang sehat?

  1. Menyadari kehendak Tuhan Yesus: pikirkan, rasakan dan sampaikanlah konten yang membangun dan bersaksi mengenai kasih karunia Allah.
  2. Sadarilah bahwa relasi hakikatnya adalah pemeliharaan hubungan antarmanusia untuk menikmati berbagai dampak yang positif.
  3. Sadarilah bahwa komunikasi merupakan anugerah Tuhan. Anugerah yang memberkati diri sendiri dan orang lain serta mencapai masa depan yang baik.

Dengan ini, Gen Z dapat membangun relasi melalui komunikasi yang sehat, karena akan berdampak indah bagi diri sendiri, orang lain, dan Tuhan Yesus.


[1] Anitalia Stefany Welaya, Seni Mengajar Gen Z dan Gen Alpha: Memahami Karakter & Kepribadian Sekaligus Pola Asuh Anak Didik Agar Siap Menghadapi Tantangan Zaman (Yogyakarta: Araska Publisher, 2024), 11, 14.
[2] Elva Rohaning Roem Sirajul Fuad Zis, Nursyirwan Effendi, “Perubahan Perilaku Komunikasi Generasi Mileniel dan Generasi Z di Era Digital,” Jurnal Homepage 5, no 1 (2021): 72, https://ejournal.umm.ac.id/index.php/JICC.
[3]Kalani Niran, Trik Sukses Menjalin Relasi: Cara Mudah Bergaul, Membangun Pengaruh, dan Memenangkan Kepercayaan Siapa Saja (Jogjakarta: Anak Hebat Indonesia, 2019), 2, https://books.google.co.id/books?id=6wdNEAAAQBAJ&pg=PA109&dq=Relasi+adalah&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&source=gb_mobile_search&sa=X&ved=2ahUKEwiDrJbp0dGVAxVE3TgGHatBJAQQ6wF6BAgQEAU#v=onepage&q=Relasi%20adalah&f=false.
[4]Niran, Trik Sukses Menjalin Relasi, 5-9.
[5]Nofrion, Komunikasi Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2016),  1, https://books.google.co.id/books?id=PnpXDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=Yang+dimaksud+dengan+komu nikasi&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&source=gb_mobile_search&sa=X&ved=2ahUKEwipz_STy6uHAxUy1 DgGHeTmAOcQ6wF6BAgOEAU#v=onepage&q=Yang%20dimaksud%20dengan%20komunikasi&f=false

Bagikan tulisan ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Agenda Mendatang