KARTINI DAYAK

Oleh Pbrt. Dr. Tulus To’u, M.Pd

1.Wadian Dadas Upu, Balian Dadas Laki-laki

Berly, menulis. Ada banyak contoh kekayaan sejarah dan budaya yang menjelaskan nilai keberagaman gender dan seksualitas di Indonesia. Salah satunya ialah Wadian Dadas Upu dari Suku Dayak Maanyan. Wadian Dadas sendiri dikenal sebagai Wadian Wawei (Wadian Perempuan). Uniknya, ada pula laki-laki yang dipilih menjadi Wadian Dadas dan disebut sebagai Wadian Dadas Upu. Otomatis, Wadian ini akan berpenampilan seperti Wadian Wawei dan merepresentasikan sifat feminin pada dirinya.

Wadian Dadas Upu sebenarnya merupakan kelompok yang tidak terpisah dari Wadian Dadas. Keberadaan mereka seperti sebuah anomali karena biasanya Wadian Dadas secara turun-temurun diwariskan kepada perempuan saja. Hal ini jarang terjadi jika seorang laki-laki terpilih menjadi seorang pewaris Kajayaen.Wadian Dadas. Wadian Dadas Upu secara lahiriah merupakan seseorang yang secara biologis berjenis kelamin jantan. Ia juga bertumbuh, berperilaku, dan berpenampilan layaknya laki-laki meskipun sesekali menunjukkan sisi femininnya. Wadian Dadas Upu yang berfisik laki-laki itu akan berpenampilan layaknya (Berly).
Wadian wawei (Wadian perempuan) ketika menjalankan tugasnya. Ia akan mengenakan galang dadas, kuwing, dan kakamban. Profesionalitas Wadian Dadas Upu serta tingginya toleransi dan sikap saling menghargai dari masyarakat menciptakan sebuah keharmonisan, terlebih pada isu keadilan dan kesetaraan gender (Berly Leo Walehanno).

Wadian dadas berfungsi adat, budaya dan sosial kemasyarakatan, karena mengandung unsur nilai-nilai religi dalam bentuk Ritual Pengobatan Tradisional. Selain itu, masa kini, berfungsi pula sebagai pertunjukan kesenian (media hiburan tradisonal), karena mengandung unsur nilai-nilai seni, dalam bentuk mantera doa berbahasa sastra klasik Dayak Maanyan (Bahasa Pangunraun), musik (irama gong, gendang dan kenong), nyanyian/kidung doa, tari (berpola gerak ilustrasi burung elang terbang di alam bebas dan ular berbisa), seni lukis (wajah dan badan khas Dayak Maanyan); pakaian (bahan kain dan pucuk daun kelapa), dan sasajen. Maksud dan tujuan ritual Wadian Dadas adalah untuk upaya penyembuhan penyakit yang sedang dialami oleh manusia, bertujuan menyelamatkan manusia dari ancaman penyakit nonmedis. Ritual pengobatan Wadian Dadas dilakukan oleh Wadian wanita

2.Perempuan Dayak perkasa

Tulisan di atas, menggambarkan, di samping laki-laki, ada perempuan Dayak yang hebat dan perkasa. Ia memimpin ritual pengobatan dan penyembuhan bagi mereka yang sakit. Dalam acara Wadian Dadas, memang perempuan yang menjadi pemeran utama dan dominan. Hal tersebut memberikan pengaruh dalam masyarakat. Yang tampil memimpin, bukan hanya laki-laki. Perempuan dapat dan berhak menjadi pemimpinnya. Karena itu, dalam masyarakat Dayak, ketika perempuan tampil dalam berbagai peran dan aktivitas masyarakat, Tidak ada suara yang menentangnya. Tidak ada marginalisasi atau peminggiran terhadap perempuan. Perempuan boleh tampil, menjadi apa saja, dimana saja, sesuai potensi, bakat, talenta, kecerdasan, dan perjuangan serta gemblengan tempaan dirinya. Bila perempuan Dayak berjuang memajukan dirinya, berani berkompetisi dalam era global yang kompetitif, maka ia akan cemerlang gemilang. Kartini Dayak, setara dengan Kartono Dayak.

Keperkasaan perempuan Dayak, kualami dan kusaksikan dalam keluarga kami. Kami, keluarga besar, 8 bersaudara, 4 laki-laki, 4 perempuan. Krisis ekonomi tahun 1965, redenominasi Rupiah, Rp.1000 jadi Rp. 1, mengubah hidup kami, Ayah berdagang, modal habis, hidup terbalik menjadi penoreh karet, petani (ladang dan sawah). Sejak itu, hidup tidak mudah lagi. Semua berjuang dan bekerja keras. Di ladang, semua pekerjaan dikerjakan bersama, kecuali menebang pohon hanya oleh Ayah dan anak laki-laki. Selain itu, semua pekerjaan, sama bagi perempuan dan laki-laki. Ibu dan anak-anak perempuan adalah perempuan perkasa.

Kebiasaan tempaan bekerja keras di ladang dan di rumah, membentuk karakter konstruktif. Ketika sekolah, berjuang dan belajar keras. Ketika sudah bekerja dan berkeluarga, karakter konstruktif tidak lekang dari hidupnya. Akhirnya, kusaksikan, ke 4 saudaraku perempuan, telah menjadi Kartini-Kartini yang dihormati di tempatnya masing-masing. Aku bangga dengan mereka semua.

3.Wahai perempuan Indonesia

Wanita hebat, bukan kerena Cantik..
Bukan karena kaya..
Bukan karena pintar..
Bukan karena namanya…
Bukan karena kedudukan suaminya..
Tetapi wanita hebat adalah,
Wanita yang mampu melukis kekuatan melalui proses kehidupan..
Tersenyum di saat hati menangis..
Bersabar di dalam kesesakan dan bertekun di dalam doa..
Tetaplah menjadi wanita yang inspiratif, Mama yang hebat,
istri kesayangan suami, wanita kebanggaan keluarga
Bangga menjadi Wanita Indonesia (FB Shinta William).

Kalimat yang luar biasa dan istimewa, penuh kekuatan dan motivasi serta inspirasi. Tentu, hal-hal yang jasmaniah, sisi dan aspek luar yang lahiriah, penting adanya. Akan tetapi, manusia batiniah, kecantikan hati dan pikiran, menjadi kekuatan yang lebih besar menjadikan seorang perempuan menjadi hebat dan perkasa. Maka, asahlah semakin tajam, nilai moral, spiritual, mental, sosial, sehingga membentuk perempuan yang hebat dan perkasa. Karena, tidak ada yang otomatis. Semua mesti berjuang, berlatih, membiasakan diri, membudayakan diri pada karakter konstruktif.

4.Mitra laki-laki

Tahun kedua kuliahku di Duta Wacana, Yogyakarta, aku berkesempatan pulang kampung. Di Banjarmasin, aku berkunjung ke sebuah asrama. Ketika mataku berpadu dengan mata seorang gadis, sekujur tubuhku seperti ada getaran listrik. Sontak,batinku berseru, ini dia, yang Tuhan siapkan bagiku. Suatu hari, kutanya, “Apa mengalami geteran cinta itu,saat mata kita berpadu,” “Iya,” katanya. Sepuluh tahun kemudian kami menikah. Tiga putra anugerah Tuhan bagi kami, tetapi yang no 2 diambil kembali olehNya.

Aku bangga dengan isteriku. Aku sangat mencintainya. Ia, perempuan Kartini Dayak, pekerja keras, di rumah dan di tempatnya berkarya dan melayani. Rumah tempat kami belajar, berdialog, berdebat, kadang berselisih, tetapi saling mengampuni. Dalam membangun keluarga, rumah tangga, kami mengelolanya, saya mitra isteri, isteri mitra saya. Keluarga sebuah kemitraan. Saling mendukung. Penolong satu terhadap yang lain. Kartono dan Kartini adalah mitra kehidupan. Laki-laki, suami, yang sukses dan hebat, karena ada mitranya, perempuan isterinya yang hebat. Perempuan, isteri, yang sukses dan hebat, karena ada mitranya, laki-laki suaminya yang hebat. Cinta, kasih, kesetiaan, kekudusan dan iman, mesti disiram agar hijau, subur, berbunga dan berbuah. Sehingga, anak-anak melihat, mendengar, mengalami dan meniru meneladani Ayah-Ibunya.

5.Makna kata
K = Kala menyeruak keluar dari rahim Ibu, perempuan-laki-laki adalah anugerah
A = Anggapan keliru, perempuan hanya pelengkap, ruang gerak berkarya dibatasi
R = Rumah tangga dan urusan dapur menjadi tempatnya yang utama
T = Tetapi, perempuan, manusia perkasa ciptaan Tuhan
I = Ia mitra laki-laki membangun keluarga, kehidupan masyarakat, negara dan dunia
N = Nyanyian merdu menggema, kala perempuan diberi tempat selayaknya ciptaan Tuhan
I = Indah nian, suara riang kicauan alam semesta bernyanyi merdu, bila menyaksikan insan-insan perempuan-laki-laki bergandengan berkarya melayani sesama.

SELAMAT HARI KARTINI, 21 APRIL 21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *